What’s behind the book?
- Judul : Metanoia
- Penulis : Murasaki
- Penerbit : Laksana
- Halaman: 236
- Genre : Fiksi
- Harga : Rp. 46.000
- Blurb :
Tumbuh dalam keluarga yang dikendalikan oleh kaum laki-laki, telah membelenggu kehidupan masa remaja Samra. Ia merasa dipasangkan pada belenggu yang tak kasatmata, yang dipasang secara longgar dan tidak mencolok. Semakin ia tumbuh dewasa, kehidupannya menjadi semakin sempit oleh batasan-batasan tradisi yang tak masuk akal, yang membuat Samra benar-benar muak dan memutuskan pergi.
Dua belas tahun kemudian, sebagai penulis ternama di Kanada yang sering mengangkat tema religius, Samra memiliki pembaca yang pro dan kontra. Pertemuannya dengan seorang mualaf bernama David membuat Samra kembali mempertanyakan kadar keimanan yang ia miliki. Persinggungan hidupnya dengan Anne membuatnya menelaah ulang pemaknaan hidayah yang diberikan Tuhan.
“Apa kau sadar bahwa cara berpikirmu telah menodai tauhidmu?”
Why i read this book?
Big Bad Wolf 2019. Biasanya memang aku sering mengunjungi book fair seperti ini sejak 2017. Karena aku bisa mendapatkan diskon dari buku-buku yang dijual. Dulu, aku selalu berpikir untuk beli buku apa saja selagi murah dan bisa meningkatkan keinginan membaca. Aku juga sering kali menginginkan buku yang tebal dan cenderung tertarik pada judul dan blurb.
Karena saat itu aku datang dengan kedua orang tuaku, aku pun tidak mau menyiayiakan kesempataan. Aku sudah memilih 4 buku, dengan satu buku yang menjadi salah satu series yang sudah pernah aku baca sebelumnya. Namun karena mereka hanya membeli masing-masing satu buku, aku jadi tak enak hati dan menaruh kembali satu buku.
Buku series yang seharusnya aku beli itu justru aku letakkan kembali :(. Jadilah, aku hanya bersama 3 buku sisanya. Iya, salah satunya buku yang akan aku ulas ini. Dan lagi, aku mendapatkannya dengan setengah harga. Yay.
Sebetulnya, aku jarang membaca buku yang sekiranya membahas perspektif religi, budaya dan sosial. Namun, setelah aku membaca blurbnya, aku pun menjadi tertarik.
Aku merasa bahwa buku ini ringan namun mampu memberikan pemahaman lebih di luar pandangannku saat ini. Apalagi, aku juga bertanya-tanya apa maksud dari kalimat terakhir blurb buku ini, “Apa kau sadar bahwa cara berpikirmu telah menodai tauhidmu?”.
My impression and rating:
Butuh waktu lama untukku mulai membaca buku ini. Aku sedikit kehilangan minat membaca setelah berada di semester yang melelahkan. Hingga kurang lebih setahun kemudian, aku baru membacanya. Iya, di tahun 2020 ini. Dan memang benar, blurb itu tidak mengecewakanku.
Dengan segala banyak perbedaan dunia timur dan barat. Aku dapat menyerap keduanya dengan sangat baik. Seolah aku merasa tengah berada di posisi Samra (tokoh utama buku ini).
Samra yang berusaha mendongkrak hal-hal dari tradisi yang dirasanya kurang masuk akal, memutuskan untuk pergi menemukan alasan yang mendukung pemikirannya. Hingga ia bertemu dengan seorang mualaf, David. Keduanya sering berdebat hingga membuat Samra menemukan hal lain yang dilewatkannya. Menurutku, salah satu dialog dari buku ini sangat bagus.
Samra terperangah. “Tidak kusangka kamu ternyata lebih dogmatis daripada yang kukira.”
“Dogmatis? Tidak, Sam, aku hanya berusaha untuk ‘listen and obey’, demi memurnikan tauhid.”
“Memurnikan tauhid?”
“Segalanya telah diatur dalam Islam, all we need is to obey, terhadap semua perintah, and to leave segala hal yang dilarang, that simple.”
“Itulah akar masalah umat ini. Kepatuhan buta membuat mereka menjadi sangat dogmatis dan tertutup.” Samra berujar dengan nada putus asa.
David tersenyum lalu berkata, “Kamu tahu apa masalahmu, Sam?”
Samra menatap David dengan jantung berdebar-debar.
“Kamu berpikir dengan emosi.”
Menurutku, tidak dipungkiri jika kita pernah merasakan ketidakadilan atau bahkan kesengsaraan dalam hidup, setidaknya akan timbul keinginan untuk menunjukkan pada banyak orang lain bahwa kita terluka atau kita menderita. Atau bahkan ada yang sampai membencinya habis-habisan hingga menjadi pendendam.
Dari buku ini aku belajar bahwa itu semua hanya karena kita terlalu ‘berpikir dengan emosi’. Hingga kita melewatkan dan tidak bisa melihat hal lain yang juah lebih penting.
Meskipun ini fiksi, pesan moral dan cerita pendukung di buku ini menyatu dengan baik dengan apa yang ingin disampaikan. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami dan sesuai untuk pemula yang ingin memperluas genre bacaannya. Karena itu, untuk ratingnya aku beri 4,9/5.
Favorite Line Quote:
“Mengapa kita menulis?”
Samra memiringkan kepala, menggeleng dengan gerakan pelan dan berkata, “Untuk menciptakan sebuah dunia alternatif. Dalam dunia yang cenderung tidak adil, orang-orang membutuhkan wadah pelarian. Buku dari masa ke masa selalu menjadi media yang ampuh untuk membangkitkan harapan.”
Farr tersenyum sementara sudut-sudut matanya berkerut ramah. “Jawaban yang sangat ambisius.”
Samra menatap lelaki sepuh itu. Heran dengan cara farr menanggapi.
“We write to teach ourselves. Pernahkah kau memperhatikan setiap kali selesai menulis sebuah buku, kau menjadi lebih banyak tahu dari sebelumnya? Bahkan, kau mampu menjawab pertanyaan krusial yang selama ini kau kira tak ada jawabannya. My dear Samra, sering kali, kitalah yang paling tidak mengerti tentang pelajaran yang ditawarkan kehidupan, sehingga kita bekerja keras untuk memahami substansinya.” Kata-kata itu dan raut wajah Farr terus mengambang di benak Samra.

