What’s behind the book?
- Judul : I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki 2
- Penulis : Baek Se Hee
- Penerbit : Haru
- Halaman. : 229
- Genre : Self Improvement
- Tahun Terbit: 2020
- Harga : Rp. 99.000
- Blurb :
Alih-alih menerima kekurangan, aku memutuskan untuk tidak memandang diriku sendiri secara negatif.
Perjuangan Baek Se Hee untuk sembuh dari distimia masih berlanjut. Konflik batin yang dialaminya selama masa penyembuhan pun jadi lebih kompleks.
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah catatan pengobatan Baek Se Hee yang berjuang mengatasi distimia” depresi ringan yang terus-menerus. Kedekatan buku ini dengan pembaca mengantarnya masuk ke jajaran bestseller Korea Selatan dan Indonesia. Baek Se Hee telah menggandeng banyak tangan orang pada seri pertama dan ia berharap bisa menggandeng lebih banyak tangan lagi dengan buku kedua ini.
Why i read this book?
Setelah menyelesaikan buku sebelumnya, sebenarnya aku belum ada keinginan untuk lanjut membaca sekuelnya (menurutku cukup monoton oleh percakapan yang ada). Lalu ketika buku kedua ini ramai di media sosial, aku yang merasa seperti ada yang tertinggal.
Dalam artian, aku merasa belum benar-benar menyelesaikan cerita yang sebelumnya aku baca. Terlebih saat itu aku juga banyak waktu luang dan ingin mengisi waktu untuk kembali membaca. Aku beli buku ini saat event 12.12 kemarin di shopee @penerbitharu dan ada promo buy 1 get 2. Hehe menang banyak kan aku.
My impression and rating:
Aku takjub sekali dengan pengantar dari dr. Jiemi Ardian, Sp. KJ dimana ia memberikan pemahaman bahwa salah satu perjalanan sulit adalah karena pembicaraan orang lain terhadap diri kita, yang tanpa disadari akan terinternalisasi dan berakhir dengan kepercayaan pada nilai tersebut.
Aku suka sekali dengan kalimat ‘Dirimu perlu kamu kenali dan terima, bukan hakimi dan musuhi. Dirimu adalah hasil dari masa lalumu hingga masa kini, jangan bandingkan perjalananmu dengan orang lain yang tentu perjalanan masa lalunya berbeda denganmu. Hidup ini adalah perjalanan penerimaan, bukan lomba lari hebat-hebatan’.
Seperti buku sebelumnya, aku cenderung memberikan banyak jeda di awal membaca. Tapi saat aku mulai meniatkan diri untuk menyelesaikan buku ini dan suasana rumah yang kondusif, aku berhasil menamatkan buku ini dalam semalam. Ternyata keputusanku untuk membeli buku ini tidak salah.
Aku senang telah menyelesaikan kedua buku ini. Dengan membaca sekuel ini aku jadi lebih paham maksud dan pesan penulis. Terlebih, proses perubahan yang dialami penulis benar-benar terlihat di sekuel ini.
Di sekuel ini, penulis terlihat mengalami banyak perubahan. Meskipun masih merasakan depresi, tapi mulai timbul sisi positif yang selama ini mungkin disembunyikan. Penulis sudah terlihat dapat menikmati dan menjalani hidup dengan lebih baik & nyaman.
Penulis juga berpesan agar orang-orang tidak menganggap sebelah mata mereka yang mengalami gangguan mental, agar luka mental bisa mendapatkan perlakuan yang sama dengan luka fisik.
Secara teknisi karena ini buku terjemahan, di sekuel ini masih terdapat beberapa kalimat yang kurang dimengerti. Aku sendiri perlu berulang kali membaca dan mengerti kalimat yang ditujukan. Namun kesalahan ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan buku pertama.
Kalau kalian masih ada yang belum menyelesaikan buku pertama atau ragu lanjut baca sekuel ini, aku sarankan untuk tetap membacanya ya karena pesan inti yang ingin penulis sampaikan ada di buku ini. Ratingnya aku beri 4.8/5. Jadi gimana nih, sudah memutuskan untuk baca?
Favorite Quote:
Saat sugestibilitas berkembang, kita cenderung lebih menaruh perhatian untuk mendengarkan yang kita anggap penting saja.

Tinggalkan Balasan