BUKU SIAPA YANG DATANG KE PEMAKAMANKU SAAT AKU MATI NANTI?

Review Buku: Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?

What’s behind the book?

  • Judul : Siapa yang datang ke pemakamanku saat aku mati nanti?
  • Penulis : Kim Sang Hyun
  • Penerbit : Haru
  • Halaman. : 164
  • Genre : Self Improvement
  • Tahun Terbit : 2019
  • Harga : Rp. 77.000
  • Blurb :

Siapa yang datang ke pemakamanku saat aku mati nanti?

Satu pertanyaan sederhana itu membuat Kim Sang-hyun banyak berpikir tentang hidup dan segala persoalannya.

Buku ini adalah catatan kecil sang penulis yang berusaha untuk hidup sedikit lebih baik, sedikit lebih bahagia, sedikit lebih sejahtera. Ditulis dengan gaya bahasa yang tenang dan jujur, Kim Sang Hyun mencoba menyampaikan kehangatan, memberikan penghiburan, dan menumbuhkan kekuatan bagi pembaca untuk menjalani hidup, meraih mimpi, juga mengatasi kekecewaan dan berbagai perkara hidup sehari-hari.

Why i read this book?

Karena di fase quarter life crisiss, tentunya banyak beragam pertanyaan akan kehidupan yang sebenarnya seringkali dipertanyakan. Bagaimana agar aku bisa menjalani kehidupan ini? Apakah aku sudah hidup dengan baik? Bagaimana aku melewati masa sulit ini? Pertanyaan yang sama sering kali terus berulang tanpa diiringi jawaban.

Di tengah pencarian jawaban, aku merasa blurb buku ini sepertinya akan memberikan gambaran. Meskipun aku tau pasti bahwa jawaban sebenarnya tidak ada yang tahu, tapi aku yakin bahwa mungkin dengan membaca buku ini akan sedikit meredakan kekhawatiranku. 

Baca Juga: Review Buku “Apa Saja yang Bisa Kulakukan Selama Aku Hidup?”

My impression and rating:

Buku ini bukan tipe buku yang sedih atau senang, dalam artian kisah dan tulisan yang dimuat dalam kisah ini sifatnya cenderung netral. Meskipun aku tahu mungkin dalam penulisannya pasti diliputi berbagai macam perasaan tapi yang ku salutkan adalah bagaimana kata-kata yang tertuliskan.

Saat kita mengungkapkan perasaan kita, kita merasa bahwa kita adalah satunya yang menjadi korban dan bahwa dunia perlu bersimpati kepada kita.

Tapi saat membaca buku ini, aku merasa bahwa kisah dan cerita yang kita lewati tentu saja boleh disampaikan, dijelaskan. Namun yang paling penting adalah bagaimana cerita tersebut diterima dan tidak dielu-elukan.

Tidak banyak orang yang bisa bersikap dewasa dalam mengahadapi ‘luka’ di hatinya. Pemahaman akan hal seperti ini tentunya dapat membantu kita untukmemahami arti kedewasaan yang sebenarnya.

Awalnya aku bertanya-tanya apa yang akan dibahas buku ini jika melihat dari judulnya. Apakah memang penulis merasa begitu kesepian sehingga mengkhawatirkan siapa yang akan peduli untuk datang ke pemakamannya?

Tapi ternyata tidak, justru judul buku ini berasal dari keresahan penulis yang bertanya-tanya apakah ia telah hidup dengan baik? Apakah ia sudah menjalankan berbagai perannya dengan benar? Sehingga apakah nantinya orang lain akan datang kepemakamannya?

Alur dan cerita bukunya sendiri menurutku memang masih cenderung general karena tidak banyak perbedaan isi antarbabnya. Beberapa kali juga aku dapati arti terjemahan yang memang kurang mudah dimengerti sehingga membuatku perlu mengulang kalimat yang sama berkali-kali.

Dan ya lagi, bahwa buku self improvement memang tidak pernah gagal, akan selalu ada pelajaran yang didapatkan dari setiap bacaan.

Overall, buku ini cocok untuk kalian yang banyak memiliki kekhawatiran, karena penulis melalui kata-katanya ingin mengarahkan pembaca agar jauh lebih dewasa dalama menyikapi kehidupan. Untuk ratingnya, aku beri 4.6/5.

Favorite Quote:

Hidup adalah seni, dan semua seniman berjuang.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca