Belakangan ini marak diperbincangkan istilah book shaming, sebenarnya apakah artinya? Ya, sama seperti istilah ‘body shaming‘ yang merujuk pada penghinaan bagian tubuh seseorang, di era sekarang ini juga dijumpai peremehan ‘buku’ sebagai bahan bacaan seseorang.
Hal ini tentunya banyak mengundang pertanyaan yang merujuk pada, ‘buku seperti apa yang layak dibaca?’, ‘buku seperti apa yang tidak diremehkan? ‘buku seperti apa yang menjadi standar bacaan?’
Masalah ini sendiri sebenarnya tidak memiliki objektivitas yang jelas. Karena buku yang dianggap remeh ini berbeda-beda tergantung penilaian setiap orang. Jadi tidak ada acuan apakah yang dilihat genre bukunya, alur ceritanya atau bahkan judul bukunya.
Awal mula permasalahan ini mungkin hanya berasal dari mulut ke mulut yang kemudian menjamur di komunitas online sehingga menimbulkan banyak asumsi tidak mendasar.
Dalam dunia sastra sendiri ada begitu banyak jenis bacaan. Mulai dari puisi prosa, drama, esai, biografi dsb. Bahkan jenis yang kita pelajari saat sejak sekolah dasar hingga kini pun terus bertambah. Hal ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan budaya, teknologi hingga tren.
Sebut halnya dengan istilah ‘Alternate-Universe‘ yang kini menjamur dalam dunia perbukuan di Indonesia yang tidak jauh berbeda dengan fan-fiksi yang sebelumnya dikenal. Semakin banyaknya genre buku inilah yang justru memperkaya dunia literasi dan menandakan berkembangnya dunia sastra.
Bookshaming dari jenis bacaan memberikan kesan bahwa seolah ada standar jenis bacaan bagi kalangan umum dalam membaca buku. Seperti ada tembok pembatas antara yang boleh dibaca dan tidak.
Peremehan jenis buku ini muncul karena beberapa pembaca merasa bahwa jenis yang dibacanya lah yang pantas dibaca. Seakan memaksakan makanan kepada orang yang sudah kenyang yang nyatanya porsi makan setiap orang tentunya amatlah berbeda.
Begitupula dengan buku bacaan seseorang, terlepas dari apapun jenis dan isinya, nyatanya buku adalah jendela dunia. Dengan membaca berarti sudah ada pengetahuan dan wawasan baru yang didapat.
Jadi tidak benar bahwa ada standar bacaan sebuah buku, setiap orang berhak membaca apapun yang disukai. Sehingga tidak ada kesimpulan bahwa membaca buku yang ini tidak perlu atau membaca buku yang itu tidak bagus.
Sastra termasuk salah satu dari ilmu seni yang membebaskan para pembuatnya untuk mengabadikan kreativitas berbahasa dalam wadah yang diinginkan. Seperti halnya film dan musik, buku juga memiliki banyak jenis yang menjadi kesukaan atau favorit seseorang.
Perbedaan tersebut bukan untuk memberikan pernyataan bahwa jenis tertentu lebih baik dari jenis yang lain. Perbedaan ini hadir untuk memperkaya seni dan mengarahkan setiap orang untuk menghargai kesukaan setiap orang dan tidak menghina kesukaan yang lain. Semoga kamu bukan salah satu dari mereka yang book shaming ya.

