Pengantar Tes Psikologi

3–4 menit
,
Psychology Test

Salah satu instrumen yang digunakan untuk menilai atau memprediksi karateristik seseorang adalah lewat tes. Tes psikologi atau yang sering disebut psikotes memiliki beberapa kegunaan yang bisa digunakan di berbagai situasi.

Pengertian Tes Psikologi

Tes merupakan prosedur untuk menilai sampel perilaku yang digambarkan dengan suatu kategori atau skor. Suatu tes dianggap terstandarisasi jika prosedur pelaksanaannya seragam.

Tes harus memiliki norma atau standar yang hasilnya dapat digunakan untuk memprediksi perilaku. Norma tersebut merupakan norma kelompok yang terbentuk dari pengujian sampel standarisasi.

Kelompok ini harus mewakili populasi untuk siapa tes tersebut dimaksudkan. Pemilihan dan pengujian sampel standarisasi sangat penting untuk kegunaan tes.

Terdapat dua jenis tes, yaitu: norm-reference dan criterion-reference.

Dalam norm-reference test kinerja setiap peserta diinterpretasikan dan dibandingkan dengan hasil kelompok atau sampel standarisasi (Petersen, Kolen, & Hoover, 1989). Sedangkan pada criterion-reference test kinerja peserta dihubungkan atau dibandingkan dengan kriteria tertentu (Berk, 1984).

Pengertian Assessment Psikologi

Dalam Assessment mengacu pada seluruh proses kompilasi tentang seseorang dan menggunakannya untuk membuat kesimpulan tentang karakteristik dan untuk memprediksi perilaku. 

Assessment dapat didefinisikan dengan menilai atau memperkirakan besarnya satu atau lebih atribut dalam diri seseorang. 

Assessment karakteristik manusia melibatkan observasi, wawancara, check-listinventory testprojective test, dan tes psikologis lainnya.

Singkatnya, tes hanya mewakili satu sumber informasi yang digunakan dalam proses penilaian. Sedangkan assessment, pemeriksa harus membandingkan dan menggabungkan data dari sumber yang berbeda.

Penggunaan Tes Psikologi

Penggunaan tes psikologi saat ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: 

  1. Klasifikasi: menetapkan seseorang ke satu kategori baik itu untuk replacement (memilih orangke dalam program yang berbeda sesuai dengan kebutuhan atau keterampilan mereka), Skrining (mengidentifikasi orang yang mungkin memiliki karakteristik atau kebutuhan khusus), Sertifikasi dan seleksi (seseorang memiliki kecakapan minimum dalam beberapa disiplin atau aktivitas).
  2. Diagnosis dan perencanaan pengobatan: menentukan sifat dan sumber perilaku abnormal, mengklasifikasikan dan merencanakan perbaikan/pengobatan.
  3. Pengetahuan diri: sumber pengetahuan diri, umpan balik yang diterima seseorang dari tes psikologi dapat mengubah jalur karier atau mengubah jalan hidup seseorang.
  4. Evaluasi program: mengevaluasi program pendidikan dan sosial dalam upaya meningkatkan kondisi sosial dan kehidupan masyarakat.
  5. Riset: mengembangkan cabang ilmu pengetahuan terapan dan teoritis dari penelitian

Syarat Tes

  1. Tes harus terstandarisasi, agar adanya keseragaman prosedur dalam semua aspek mulai dari administrasi, penilaian, dan interpretasi tes.
  2. Tes memiliki objektivitas tinggi, data yang diperoleh dengan cara yang tidak sistematis dapat dengan mudah menyebabkan penilaian yang tidak akurat karena subjektivitas peneliti.
  3. Tes memiliki reliabilitas yang tinggi, kurangnya reliabilitas menyiratkan ketidakkonsistenan dan ketidaktepatan, yang disamakan dengan kesalahan pengukuran (tidak relevan dengan apa yang diukur).
  4. Tes memiliki validitas yang tinggi, sejauh mana data yang dikumpulkan mendukung interpretasi skor tes.
  5. Tes harus komprehensif, mampu menguji kemampuan testee secara menyeluruh dalam lingkup yang luas.
  6. Tes harus diskriminatif, dapat membedakan orang dengan kemampuan tinggi dan rendah.
  7. Tes harus mudah digunakan dan murah, tes yang baik dapat dikatakan tes yang penggunaanya dapat mudah dimengerti dan dilaksanakan serta memiliki harga yang murah dan terjangkau.

Kesalahan Tes

  1. Sumber dari tester: tester yang hanya melihat kelemahan dan tanda patologis saja, tidak dapat melihat sisi positif, tester yang hanya melihat hal-hal yang bagus dan tidak dapat melihat sisi lemahnya, tester yang mempunyai identitas yang ragu-ragu dan tester yang terhambat dalam hubungan sosial.
  2. Sumber dari testee: motivasi yang rendah untuk mengikuti tes, kondisi badan yang kurang fit, berusaha menampilkan yang menurutnya “baik” (faking good), mengerjakan dengan asal-asalan atau menampilkan yang menurutnya “buruk” (faking bad) dan panik yang berlebihan.
  3. Sumber dari tes: tidak valid, tidak reliabel, tidak memiliki standarisasi, tidak obyektif dan tes sudah bocor (diketahui isi dan jawabannya).
  4. Sumber dari kondisi atau suasana tempat tes: suhu ruangan yang terlalu panas/dingin, pengaturan tempat duduk yang terlalu berdekatan, tidak adanya tatakan untuk menulis, ruangan dekat dengan sumber suara gaduh, terlalu banyak orang yang ditest sehingga mengurangi akurasi pemahaman instruksi tes dan tidak menggunakan alat bantu yang memadai dalam memberi instruksi.

Sumber:

  • Gregory, R. J. (2014). Psychological Testing: History, Principles. Pearson Education Limited.
  • Urbina, S. (2004). Essentials of Psychological Testing. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca