What’s behind the book?
- Judul : Aku Ingin Pulang Meski Sudah Di Rumah
- Penulis : Kwon Rabin
- Penerbit : Haru
- Halaman : 208
- Genre : Self Improvement
- Tahun Terbit : 2021
- Harga : Rp. 119.000
- Blurb :
“Saat seseorang merasa dirinya berbeda, bingung, dan ketakutan ketika dihadapkan pada situasi yang tidak biasa di lingkungan baru, secara naluriah ia akan mencari rumah yang paling nyaman dan cocok baginya. Ia seperti siput yang giduon dengan rumah di punggungnya untuh mempertahankan diri.”
Aku Ingin Pulang Meskipun Sudah di Rumah merupakan sebuah esai pengembangan diri yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Kwon Rabin. Dalam buku ini, Kwon Rabin menyediakan rumah nyaman bagi pembaca untuk berbagi kesulitan yang dialami ketika beranjak dewasa.
Pasti menyenangkan menjadi siput karena ia dekat dengan rumahnya.
Why i read this book?
Udah lama banget pengen beli dan baca novel ini walaupun awalnya ga terlalu tertarik. Tapi karena sering liat buku ini di timeline jadi penasaran maksud dari buku ini apa. Waktu itu aku membayangkan bahwa buku ini akan cukup relate dengan keadaan yang aku rasakan. Karena seringkali merasa bahwa rumah yang dimaksud bukanlah rumah yang sebenarnya.
Cari-cari waktu buat nunggu promo beli buku ini karena emang cukup mahal dan aku pun berkespektasi bahwa buku ini tebal karena harganya tapi ternyata buku ini justru terdiri dari beberapa ilustrasi. Coba mencari promo dari penerbitnya langsung dan yeay aku dapet buku ini dengan setengah harganya.
Baca Juga: Review Buku: Jawaban Untuk Kecemasanmu
My impression and rating:
Seperti yang aku bilang diatas, ternyata buku ini penuh dengan ilustrasi berwarna yang indah. Buku ini terdiri dari 4 bab yang dimana dua bab awal membahas tentang kesulitan dan kekhawatiran hidup serta bab dua terakhir membahas tentang hubungan percintaan.
Buku ini berisi esai-esai singkat dari penulis tentang dua hal di atas yang divisualisasikan dengan ilustrasi yang indah. Di buku ini juga dijelaskan bahwa rumah ‘house’ dan ‘home’ adalah dua hal yang berbeda. ‘Home’ inilah yang menggambarkan rumah, tempat kembali dan tempat peristirahatan jiwa dan emosional yang dimaksud.
Aku sendiri suka sekali dengan dua bab awal karena memang ini isi yang aku bayangkan sebelumnya. Cerita dan kata-kata yang penulis sampaikan juga dengan mudah aku pahami berkat terjemahan yang mudah dimengerti. Untuk dua bab setelahnya kurang lebih membahas tentang hubungan percintaan baik yang senang atau yang sedih. Banyak puisi-puisi yang indah dan sepertinya kana relate dnegan banyak orang.
Di setiap akhir dua bab ini, penulis juga menceritakan kisah pribadinya. Penulis sendiri di akhir buku memang menjelaskan maksud dari penulisan buku ini, katanya ia ingin menulis buku yang tidak hanya menggambarkan kesedihan tapi juga kebahagiaan yang tergambar dari dua bab terakhir.
Buku ini menurutku cukup ringan namun mungkin cukup berkenang bagiku karena ada satu paragraf yang seolah menamparku saat ini yang merasa bahwa aku tidak punya waktu luang untuk melakukan hal lain setelah bekerja seharian. Kira-kira begini tulisannya:
“Kesempatan itu bisa menjadi semakin banyak atau malah semakin sedikit.
Semuanya tergantung pada pola pikir kita.
Ketika kita mengatakan tidak punya waktu luang, artinya kita harus menyisihkan waktu kita”
Sepertinya memang benar bahwa semua tergantung bagaimana pikiran kita, selain harus bersyukur, ketika kita ingin mencapai atau melakukan sesuatu maka kita perlu menyisihkan/mengorbankan sesuatu. Tidak ada orang yang tidak punya waktu, karena sejatinya waktu dan kesempatan selalu ada tergantung bagaimana kita mau mengambilnya atau tidak.
Buku ini simpel dan elegan, kalian mungkin bisa membacanya dengan santai sembari duduk-duduk di kafe atau saat duduk dalam angkutan umum. Semoga buku ini bisa memberikan manfaat bagi kalian yang membacanya. Aku beri 4.7/5.
Favorite Quote:
Meski orang lain menganggapnya seringan debu, kesulitan yang kualami itu seberat alam semesta dan terasa sangat pelik.

