Review Buku: Hargai Diri Sendiri Dan Berhentilah Tersakiti 

3–5 menit
HARGAI DIRI SENDIRI DAN BERHENTILAH TERSAKITI

What’s behind the book?

  • Judul : Hargai Diri Sendiri Dan Berhentilah Tersakiti 
  • Penulis : Yoon Eun Jung
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
  • Halaman : 225
  • Genre : Self Improvement
  • Tahun Terbit : 2022
  • Harga : Rp. 78.000
  • Blurb :

Luka hati selalu disebabkan oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Semakin kita membuka diri dalam sebuah relasi, semakin rentan kita tersakiti. Ingin menyenangkan orang lain, berusaha keras memenuhi standar mereka, kita pun berharap mendapat timbal balik yang setara, bahkan lebih. Sayangnya, kenyataan berkata lain. 

Namun, mestikah kita menutup diri dari semua relasi dalam hidup kita? Menjadi dingin dan apatis hingga melewatkan kesempatan untuk menjalani hidup yang menyenangkan? 

Yoo Eun-Jung, lewat pengalamannya sebagai psikiater, telah bertemu banyak pasien yang terluka hatinya karena relasi dengan keluarga, teman, kolega, dan pasangan. Dalam buku ini, ia menuliskan “resep psikologis” untuk melindungi diri dan perasaan kita sendiri dalam sebuah relasi. Sebuah penguat bagi orang-orang muda untuk mencapai kemandirian emosi, dengan belajar mengenali diri sendiri, berfokus pada perasaan sendiri, dan menyampaikan kebutuhannya kepada orang lain. 

Sebab, siapa lagi yang bisa menjadi pendukung terbaik bagi diri kalau bukan kita sendiri?

Why i read this book?


Meskipun sudah beberapa kali melihat buku ini hadir di timeline e-commerce maupun toko buku, aku belum memiliki ketertarikan dalam membacanya. Hingga saat aku ingin membeli buku lain, aku membaca blurb buku ini, lihatlah ke paragraf kedua dari blurb di atas.

Kurang lebih itulah jawaban mengapa aku tertarik membeli buku ini. Sepertinya buku ini akan menarik, aku pun meninggalkan buku yang sebelumnya hendak aku beli dan berbalik arah untuk membeli buku ini. 

Baca Juga: REVIEW BUKU “AKU INGIN PULANG MESKI SUDAH DI RUMAH”

My Impression & Rating:

Butuh waktu yang cukup lama memulai dan menyelesaikan buku ini dalam sebulan, karena terbiasa membaca buku dalam transportasi umum, aku perlu meneysuaikan dengan mood dan situasi sekitar. Ulasan yang harusnya aku selesaikan di bulan kemarin pun baru sempat aku kerjakan sekarang.

Meskipun pada awal dan pertengahan buku kudapati sedikit kebosanan, nyatanya akhir buku ini membungkan semuanya. Aku tidak menyesal membeli buku ini. 

Tidak seperti kebanyakan narasi pada buku self improvement lainnya yang seringkali memvalidasi dan mendukung untuk menerima perasaan tidak menyenangkan, buku ini justru kebalikannya.

Bukan dengan dukungan tapi dengan pembenaran, perasaan tidak menyenangkan yang menjadi masalah kita justru dilawan dengan pernyataan bahwa sebaiknya kita tidak seperti itu, bahwa ada akibat buruk yang ditimbulkan dan bahwa ada cara yang lebih baik untuk menyikapinya.

Meskipun benar kejadian tidak menyenangkan itu bisa saja hadir, bukanlah hal-hal lain di luar diri yang perlu kita ubah, melainkan bagaimana diri sendiri mulai menyikapinya dengan baik dan dewasa. 

Buku ini terdiri dari enam bab yang kurang lebih membahas masalah yang seringkali dihadapi di usia dua puluh hingga empat puluhan dengan beberapa kisah yang disertakan. Masalah pendidikan, pekerjaan, percintaan hingga hubungan keluarga.

Sebagai seorang psikiatri, penulis meberikan resep psikologis di bab akhir buku ini terkait dengan masalah-masalah diatas. Dan menurutku bab inilah yang akhirnya menjadi golden pick dari keseluruhan buku ini. 

Dalam beberapa buku yang aku baca saat dalam perjalanan mungkin ada beberapa tulisan yang menyesakkan sehingga beberapa air mata berjatuhan. Sepertinya aku harus merevisi ulasanku sebelumnya, meskipun benar air mataku keluar nyatanya inilah buku yang benar-benar membuat aku menangis.

Bahkan setelah aku selesai membacanya, aku masih perlu waktu untuk meredakan tangisan. Seolah hampir semua hal yang aku rasakan dibahas dan dijawab dengan jawaban yang tidak aku harapkan. Bukankah perasaan yang selama ini dirasakan hanya perlu pihak lain untuk memberikan jawaban yang kita inginkan?

Tapi jawaban itulah yang sedikit memberikan aku kesadaran, bahwa sampai titik ini aku masih kekanak-kanankan, ego ini masih terlalu kuat dalam mengalahkan super egonya. Karena itulah buku ini memberikan kesan yang begitu membekas.

Mungkin aku perlu membacanya kembali di masa depan untuk mengingatkanku apa yang sebaiknya dilakukan. Buku ini sangat sesuai bagi siapapun yang sedang dalam tahap kebingungan, ingin berhenti tapi terlalu takut memulai, ingin melanjutkan tapi tidak ada alasan untuk bertahan.

Apapun yang sedang dihadapkan, semoga kita semua mampu menghadapi dan menyelesaikannya tanpa penyesalan. Semoga ulasan ini bermanfaat, aku nilai 4.8/5. Bagaimana, apakah dari kalian sudah ada yang membacanya? 

Favorite Quote:

Kamu bisa bertengkae dengan ibumu atau berdebat dengannya. Namun bagaimanapun juga, jangan lupa bahwa dia tidak dilahirkan untuk menjadi “ibumu”. Dia hanya hadir sebagai ibumu “saat ini”.

Penting untuk melakukan apa yang ingin kamu lakukan, tetapi juga penting untuk melakukan apa yang kamu kuasai. Kamu harus melakukan apa yang kamu kuasai sehingga kamu dapat terus melakukannya dengan “lebih mudah”.

Tinggalkan fantasi “gairah dan semangat akan apa yang ingin kamu lakukan”. Mimpi bukan hanya sesuatu yang membuat jantungmu berdebar dan sepertinya memang bukan itu.

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca