Berbicara tentang gangguan mental tentunya juga berbicara masalah gangguan kepribadian. Tidak sedikit dari masyarakat umum yang melakukan self-diagnosed gangguan kepribadian karena merasa ada hal yang tidak benar pada dirinya, hal ini terutama berkaitan dengan bagaiaman ia menyikapi suatu hal.
Lantas apa yang dimaksud dengan gangguan kepribadian dan apa saja jenis yang termasuk di dalamnya? berikut rangkuman yang diambil dari buku DSM V (2013):
Gangguan Kepribadian/Personality Disorder
Gangguan kepribadian adalah pola berkelanjutan dari pengalaman batin dan perilaku yang sangat menyimpang dari ekspektasi budaya individu, bersifat luas dan kaku.
Gangguan ini biasanya dimulai pada masa remaja atau awal masa dewasa, stabil dari waktu ke waktu, dan menyebabkan distres atau gangguan. Personality disorder memiliki beberapa jenis yang kemudian diklasifikan oleh para ilmuwan sebagai berikut:
- Paranoid: gangguan kerpibadian dengan pola ketidakpercayaan dan kecurigaan terhadap motif orang lain yang ditafsirkan sebagai jahat.
- Skizoid: gangguan kerpibadian dengan pola keterpisahan dari hubungan sosial dan terbatasnya ekspresi emosional.
- Skizotipal: gangguan dengan pola ketidaknyamanan akut dalam hubungan dekat, adanya persepsi atau distorsi kognitif dan eksentrisitas perilaku.
- Antisosial: gangguan kerpibadian dengan pola pengabaian dan pelanggaran hak orang lain.
- Gangguan kepribadian ambang: gangguan kerpibadian dengan pola ketidakstabilan dalam hubungan interpersonal, citra diri dan afeksi dan ditandai perilaku impulsif.
- Histrionik: gangguan dengan pola emosionalitas dan pencarian perhatian yang berlebihan.
- Narsistik: gangguan dengan pola besar kebutuhan akan kekaguman dan kurangnya empati.
- Avoidant: gangguan kerpibadian dengan pola penghambatan sosial, adanya perasaan tidak mampu dan hipersensitif terhadap evaluasi negatif.
- Dependent: gangguan dengan pola perilaku tunduk dan melekat yang berhubungan dengan kebutuhan berlebihan untuk diurus.
- Obsesif-kompulsif: gangguan kerpibadian dengan pola kesenangan dengan keteraturan, perfeksionisme, dan kontrol.
Dari beberapa jenis personality disorder spesifik di atas, para ilmuwan kemudian mengklasifikasinnya lagi menjadi 3 kelompok berdasarkan ciri kesamaan deskriptifnya, yaitu:
- Cluster A termasuk gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan schizotypal. Individu dengan gangguan ini sering terlihat aneh atau eksentrik.
- Cluster B termasuk gangguan kepribadian antisosial, ambang, histrionik, dan narsistik. Individu dengan gangguan ini sering terlihat dramatis, emosional, atau tidak menentu.
- Cluster C termasuk gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan obsesif kompulsif. Individu dengan gangguan ini sering tampak cemas atau takut.
Ciri-ciri Gangguan Kepribadian
Ciri-ciri personality disorder biasanya dapat dikenali selama masa remaja atau awal masa dewasa. Perkembangan perubahan kepribadian di masa dewasa menengah atau kehidupan selanjutnya memerlukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan kemungkinan adanya perubahan kepribadian karena kondisi medis atau penggunaan zat yang tidak dikenali.
Diagnosis gangguan ini memerlukan evaluasi pola fungsi jangka panjang individu, ciri-ciri gangguan kepribadian juga harus dibedakan dari karakteristik yang muncul sebagai respons terhadap stressor situasional tertentu atau keadaan mental sementara. Secara umum berikut ciri dari gangguan ini:
- Pola pengalaman dan perilaku batin yang bertahan lama dan sangat menyimpang dari ekspektasi budaya individu. Pola ini terlihat dari dua (atau lebih) fungsi berikut: kognisi, afeksi, fungsi interpersonal dan kontrol impuls.
- Pola bertahan tidak fleksibel dan menyebar di berbagai situasi pribadi dan sosial.
- Pola yang menetap dan mempengaruhi fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi lainnya.
- Polanya stabil dan durasinya lama.
- Pola tidak disebabkan oleh konsekuensi dari gangguan mental lainnya atau oleh efek fisiologis suatu zat.
Demikian penjelasan mengenai gangguam kepribadian, jenis dan diagnostiknya. Meskipun terlihat ada beberapa ciri yang sesuai dengan keadaan diri/seseorang, diagnosa gangguan kepribadian tetaplah harus berdasarkan keputusan dari seorang professional (Psikolog/Psikiater).
Diagnosa akan diputuskan setelah melewati serangkaian pengamatan dan observasi yang dilakukan professional untuk kemudian dapat diarahkan pada pengangan yang tepat.
Jadi, stop self-diagnosed!
Sumber: American Psychiatric Association, (2013). Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders Fifth Edition. P. 565.

Tinggalkan Balasan