Depresi biasanya ditandai dengan adanya perubahan suasana hati yang didominasi perasaan sedih, cemas, tertekan, merasa tidak berharga, putus asa dan pemikiran negatif berulang lainnya.
Umumnya, gejala depresi berlangsung dalam kurun waktu dua minggu, namun terdapat bentuk depresi lain yang berlangsung selama bertahun-tahun yang disebut dengan istilah distimia.
Distimia atau Persistent Depression Disorder merupakan bentuk depresi dengan gejala ringan dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Dalam DSM V disebutkan bahwa distimia berlangsung setidaknya selama kurun waktu dua tahun pada orang dewasa atau satu tahun pada remaja dan anak-anak.
Distimia mungkin ditandai dengan gejala depresi yang lebih ringan, namun distimia bersifat kronis karena terjadi secara berulang dan berkepanjangan. Penderita distimia mengalami suasana hati yang tertekan hampir sepanjang hari setidaknya selama 2 tahun. Distimia dua kali lebih umum terjadi pada wanita dibandingkan pria.
Gejala Distimia
Gejala distimia memiliki kesamaan dengan beberapa ciri gangguan depresi mayor. Selain suasana hati yang buruk dan perasaan tertekan hampir setiap hari, penderita distimia mengalami setidaknya dua dari tujuh gejala berikut ini:
- Nafsu makan buruk atau makan berlebihan
- Insomnia atau hipersomnia
- Kelelahan dan tidak berenergi
- Merasa rendah diri
- Sulit untuk konsentrasi
- Sulit dalam mengambil keputusan
- Merasa putus asa
Sebuah penelitian memberikan perbandingan antara suasana hati yang normal, distimia dan depresi mayor. Berbeda dengan perubahan suasana hati depresi mayor yang berlangsung dalam waktu yang singkat namun sangat dalam dan berat, distimia justru mengalami perubahan suasana hati yang lebih ringan hingga mendekati normal. Namun perubahan ini berlangsung secara terus-menerus dan berkepanjangan.

Sumber: Dysthymic disorder: Forlorn and Overlooked?
Gejala distimia yang kronis ini mengakibatkan gangguan fungsi yang lebih besar dibandingkan depresi mayor karena mempengaruhi aktivitas sosial, pekerjaan dan pribadi dalam waktu yang lama akibat dari ketidakstabilan emosi penderitanya.
Distimia dapat terjadi secara sendiri atau bersamaan dengan gangguan mental atau penyakit fisik lainnya. Seseorang dapat mengalami depresi mayor dan distimia secara bersamaan atau yang disebut dengan istilah depresi ganda. Penelitian lain menunjukkan 3 dari 4 orang distimia akan mengalami setidaknya satu periode depresi mayor pada waktu yang bersamaan.
Faktor Penyebab Distimia
Sama seperti gangguan mental lainnya, distimia dapat terjadi karena gabungan beberapa faktor, mulai dari faktor genetik, biologis, lingkungan, dan psikologis. Selain itu, stres dan trauma juga memicu terjadinya distimia.
Secara biologis, distimia dapat terjadi karena adanya kelainan pada fungsi otak yang memproses emosi dan mempengaruhi suasana hati. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan depresi memiliki gangguan pada bagian otak yang bertanggung jawab mengatur suasana hati, berpikir, tidur, nafsu makan dan perilaku sehingga tidak berfungsi normal.
Rangkaian peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan trauma juga dapat memicu terjadinya distimia. Stres mengganggu kemampuan seseorang untuk mengatur suasana hati dan diperburuk oleh strategi koping yang tidak sehat.
Hal ini menimbulkan penumpukan kesedihan yang semakin mendalam dan ketidakmampuan menghadapi tekanan yang terjadi. Isolasi dan tidak adanya dukungan sosial juga dapat memperburuk dan memperpanjang gejala distimia.
Perawatan Distimia
Meskipun distimia nampak memiliki gejala yang lebih ringan, penderita distimia tetap perlu melakukan perawatan. Distimia yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi depresi yang lebih parah dan meningkatkan risiko untuk percobaan bunuh diri.
Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk melakukan perawatan bagi seseorang dengan gangguan distimia, diantaranya:
- Pengobatan: Penggunaan antidepresan umumnya disarankan psikiater untuk menyeimbangkan kembali fungsi otak yang terganggu. Pasien harus mengikuti durasi dan dosis penggunaan berdasarkan izin psikiater. Menghentikan atau melewatkan dosis dapat menyebabkan reaksi tertentu atau bahkan memperburuk gejala yang ada.
- Psikoterapi: Beberapa psikoterapi biasanya dilakukan untuk membantu penderita distimia dalam merestrukturisasi pikiran, mempelajari cara mengatasi masalah yang lebih baik dan mencegah timbulnya pikiran negatif dan berbahaya.
- Penerapan gaya hidup sehat: Gaya hidup yang sehat dapat dimulai dari pola makan yang sehat, tidur yang cukup, berolahraga dan melakukan hobi dan hal lain yang disukai.
- Mendapatkan dukungan sosial: Penderita distimia perlu mendapat dukungan dari orang sekitar dan mengelilingi diri mereka dengan teman, rekan dan keluarga yang suportif sehingga memberikan kekuatan bagi mereka untuk bertahan.
Perawatan distimia perlu dilakukan secara konsisten karena suasana hati dapat mendekati normal dan berubah menjadi rendah kembali. Jika kamu mulai merasakan gejala-gejala di atas dalam waktu yang lama dan telah mengganggu keseharianmu, ada baiknya untuk mendatangi para profesional seperti psikiater dan psikolog.
Referensi:
- https://www.psychologytoday.com/us/conditions/persistent-depressive-disorder-dysthymia
- https://www.webmd.com/mental-health/mood-disorders
- Moch, S. (2011). Dysthymia: more than “minor” depression. SA Pharmaceutical Journal, 78(3), 38-43
- Sansone, R. A., & Sansone, L. A. (2009). Dysthymic disorder: forlorn and overlooked?. Psychiatry (Edgmont), 6(5), 46.

