Buku Anak yang Memendam Amarah

Review Buku: Anak yang Memendam Amarah

What’s Behind The Book

  • Judul: Anak yang Memendam Amarah
  • Penulis: Lee Kkoch Nim
  • Penerbit: Gramedia
  • Halaman: 187
  • Genre: Novel
  • Tahun Terbit: 2023
  • Harga: Rp. 69.000
  • Blurb:

“Fakta tidak penting. Yang penting orang-orang percaya.”
Ini adalah kisah tentang kebenaran semu dan keyakinan palsu.

Ji Ju-yeon dan Park Seo-eun bersahabat. Suatu hari, setelah bertengkar hebat, Seo-eun ditemukan tewas di belakang sekolah dan Ju-yeon dituduh sebagai pembunuhnya. Namun, entah kenapa, Ju-yeon sama sekali tidak ingat apa yang terjadi hari itu. Apakah Ju-yeon benar-benar membunuh Seo-eun?

Orang-orang memberikan pernyataan dan kesaksian yang bertolak belakang, yang membuat gambaran tentang Ju-yeon, Seo-eun, dan hubungan mereka berdua ikut berubah-ubah. Siapa yang berbicara jujur? Siapa yang berbohong?

Satu hal sudah pasti. Orang-orang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar dan meyakini apa yang ingin mereka yakini.

Why I Read This Book?

Buku ini adalah salah satu buku yang sering bermunculan di rekomendasi ecommerce. Pikirku dari judul buku ini sangat menggambarkan tipikal buku self-improvement dari Korea yang menarik banyak orang. Namun ternyata aku salah, sampai aku baru akan menulis review ini, aku baru tahu kalau ini bukanlah buku self improvement haha.

Lantas kenapa akhirnya aku beli? Agustus 2024 kemarin aku datang ke event Semesta Buku yang ada di Taman Ismail Marzuki. Setelah bingung hedak memilih buku yang mana, aku putuskan untuk membeli buku ini, yang memang sudah sempat aku incar.

Kalau liat dari blurb, memang rasanya ini bukanlah sebuah buku non fiksi atau self improvement. Namun pikirku saat itu mungkin ada sebagian kisah fiksi yang akan disampaikan didalamnya selain prosa. Jadi aku tidak terlalu memikirkan betul blurbnya. Karena ya sepertinya, buku ini termasuk dari beberapa buku yang aku minati hanya dengan melihat judulnya.

My Impression and Rating

Buku ini tidak terlalu tebal dan diawali dengan prolog cerita yang cukup membuat penasaran. Seolah terbawa akan ceritanya, dari sinilah aku baru sadar bahwa sepertinya buku ini akan membalut cerita fiksi. Meski demikian, setelah sekian lama tidak membaca buku fiksi, tidak disangka buku ini justru sangat seru dan menyenangkan.

Karena berasal dari Negeri Gingseng, tentu saat membaca buku ini rasanya seolah menyaksikan adegan drama/film korea yang memiliki alur yang tajam. Cerita buku ini mengangkat tema cerita misteri tentang penemuan siswi yang meninggal di tengah lingkungan sekolah menengah di Korea Selatan. Terlebih siswi ini merupakan siswi yang bisa dibilang sering dikucilkan dan didiamkan.

Satu-satunya yang dicurigakan adalah teman terdekat siswi tersebut yang bernama Ju Yeon. Ju Yeon seorang siswi yang sangat terpandang dan memiliki latar belakang bak pemeran utama yang sempurna bak di Drama Korea. Hanya saja, banyak prasangka buruk yang diterimanya karena ia sering kali terlihat bossy dan tempramental.

Sepanjang buku ini aku ikut terbawa untuk menebak-nebak apakah benar Ju Yeon yang membunuh Seo Eun. Meskipun banyak orang dan bukti yang mengarah kepada Ju Yeon, entah mengapa aku merasa bukanlah dia pelakunya. Namun setiap babnya aku justru dibuat terombang-ambing dan meragukan keyakinan bahwa Ju Yeon sepertinya memang pelakunya.

Baca Juga: Review Buku: Jawaban Untuk Kecemasanmu

Meskipun dengan sifat luarnya yang cukup meyakinkan bahwa dialah pelakunya, nyatanya Ju Yeon adalah sosok yang mencerminkan “Anak yang Memendam Amarah”. Ju Yeon tumbuh dengan lingkungan yang mengajarkan kasih sayang bersyarat dan dituntut untuk bersikap bak tuan putri elegan. Ju Yoen menjadi anak yang tidak bisa mengelola emosinya dengan baik karena terus dituntut untuk menyembunyikan emosi yang dirasa.

Banyak nilai dan pelajaran berharga yang bisa diambil dari cerita ini. Namun hal yang paling membekas bagiku adalah meskipun saat Ju Yeon yakin bahwa dialah bukan pelakunya namun lingkungan sekelilingnya justru terus meragukan dan memojokkannya sehingga pada akhirnya dia sendiri justru ikut terbawa dengan kemungkinan bahwa dia memang pembunuhnya.

Dalam kehidupan sehari-hari tentu ini adalah hal yang sering terjadi. Orang-orang hanya ingin mempercayai apa yang ingin mereka percayai, sekalipun kita memiliki kepercayaan yang berbeda namun jika terus dipojokkan dengan banyak orang pada akhirnya diri kita hanya akan berakhir mengikuti kepercayaan mereka.

Lantas apa yang terjadi pada Ju Yeon? benarkah Ju Yeon pelakunya?

Jawabannya bisa kamu temukan di akhir cerita ini ya hehe. Intinya buku ini bagus dan sangat aku rekomendasikan untuk kalian yang suka untuk menyimak cerita-cerita dari Korea. Aku beri nilai 4./5.

Favorite Quote

Baginya, anak-anak yang bertindak sesuka hati seperti itu mengerikan. Anak-anak yang tak kenal takut dan tidak tahu kesalahan apa yang mereka lakukan. Anak-anak yang memohon maaf dengan alasan usia mereka yang masih muda padahal tubuh mereka sudah menyerupai orang dewasa.

Orang-orang di dunia ini tidak mendengarkan kebenaran. Mereka hanya mendengarkan apa yang ingin mereka dengar.

Apakah orang miskin adalah orang baik sementara orang kaya adalah orang jahat? Apakah orang yang tewas adalah orang baik sementara orang yang hidup adalah orang jahat? Kalau begitu, kita semua yang ada disini adalah orang-orang hagat karena kita semua masih hidup.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca