Benarkah Korea Selatan Negara yang Akan Hilang Pertama dari Bumi?

Korea Selatan tengah ramai diperbincangkan karena diprediksi akan menjadi negara pertama yang hilang dari Bumi. Benarkah demikian? 

Meskipun terkenal dengan negara dengan pertumbuhan ekonomi dan budaya yang sangat pesat, Korea Selatan kini justru harus menghadapi ancaman kepunahan karena angka kesuburan yang semakin rendah. Jika berlanjut angka kelahiran akan terus menurun dan penuaan populasi akan lebih cepat.

Namun benarkah hanya masalah tingkat kesuburan dan populasi yang menyebabkan Korea Selatan akan hilang dari Bumi? Berikut penulis rangkum beberapa faktor dan alasan mengapa ada klaim tersebut, yuk simak lebih lanjut.

Tingkat Kesuburan Terendah 

Pada tahun 2023 Korea Selatan tercatat mengalami penurunan angka kesuburan atau fertility rate dari 0.78 menjadi 0.72. Angka ini jauh dari rata-rata normal sebesar 2.1 yang berarti wanita diperkirakan akan melahirkan sekitar 2,1 anak sepanjang hidupnya. Penurunan ini tidak hanya menjadi yang terendah bagi Korea Selatan, tapi juga menjadi yang terendah di dunia.

Dilansir dari Salzburg Global, Pakar Demografi Manuel Garcia Huintrón menyatakan bahwa dengan tingkat kesuburan 0,7 butuh waktu 50 tahun bagi Korea Selatan untuk mengurangi separuh populasinya dan kemudian 50 tahun lagi untuk menguranginya setengahnya lagi. 

Artinya, jika angka kesuburan ini terus bertahan atau bahkan mengalami penurunan, Korea Selatan akan mengalami krisis kekurangan populasi yang signifikan di masa depan.

Prioritas Berkarir Perempuan Korea

Perempuan Korea memiliki tingkat pencapaian pendidikan tertinggi di antara negara-negara OECD, meski demikian hal ini tidak sebanding dengan kesempatan bergabung dalam manajemen dan kepemimpinan. Karena itu jika mereka tidak menunjukkan kemampuan dan kinerja yang meningkat, mereka akan kehilangan kesempatan untuk bisa sukses dalam bekerja.

Terlebih jika mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak, kesempatan untuk bisa sukses dalam berkarir akan semakin tertutup. Tidak sedikit perempuan yang dilaporkan kehilangan pekerjaan setelah mereka cuti melahirkan. 

Belum lagi dengan tekanan dan jam kerja yang tinggi akan sangat menyulitkan para perempuan untuk bekerja sembari mengasuh dan membesarkan anak. Maka dari itu perempuan Korea lebih memprioritaskan untuk membangun karir dibandingkan menjadi ibu.  

Pertimbangan Akan Masa Depan Anak

Orang Korea memiliki kecenderungan untuk memikirkan segala sesuatu dengan matang, terutama dalam keputusan memiliki anak. Mereka menyadari bahwa membesarkan anak butuh perhatian dan biaya yang sangat besar. Mereka tidak ingin jika anak mereka lahir dan tumbuh dengan banyak kekurangannya. 

Karena itu kebanyakan orang tua Korea selalu berlomba memasukkan anaknya ke tempat les dan sekolah terbaik dengan harapan agar anak mereka mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik. Tentunya hal ini mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Meskipun pemerintah Korea Selatan telah berusaha memberikan berbagai fasilitas dan tunjangan bagi yang lebih besar untuk mendorong angka kelahiran, tampaknya hal tersebut masih kurang efektif untuk mendorong masyarakat agar memiliki anak.

Masalah Kesetaraan Gender 

Setiap harinya, masalah kesetaraan gender di Korea yang semakin memanas ikut memperparah kondisi ini. Para perempuan yang memperjuangkan haknya dianggap sebagai gerakan feminis yang radikal dan membahayakan. 

Tingginya budaya patriarki di Korea, membuat para perempuan merasa kesulitan untuk mengasuh anak dan pekerjaan rumah seorang diri. Terlebih mayoritas laki-laki Korea masih banyak yang tidak ingin membantu dan membagi peran dalam mengurus anak dan pekerjaan rumah. 

Akibatnya, banyak perempuan yang merasa marah dan tidak dapat menerima kondisi tersebut. Mereka pun memilih untuk menghindari kemungkinan buruk tersebut dengan tidak menikah atau tidak memiliki anak. 

Hal inilah yang akhirnya menyebabkan peningkatan angka pernikahan migran. Dilansir dari Business Today, sejak awal tahun 2000an perkawinan dengan para migran telah meningkat hingga 70 persen. Pernikahan migran menjadi dampak akibat dari masalah ketidakseimbangan gender di Korea  yang terus berlanjut.

Itulah beberapa faktor dan alasan yang mendasari prediksi mengapa Korea Selatan menjadi negara pertama yang akan hilang di bumi. Pada akhirnya hal tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi Korea Selatan dan negara lainnya.

Kehilangan populasi karena penurunan angka kesuburan merupakan masalah struktural yang membutuhkan banyak upaya dan solusi yang jauh lebih kompleks. Terutama kondisi yang menyangkut perlunya kesetaraan dan dukungan yang nyata bagi para perempuan untuk bisa menjalani perannya sebagai ibu dan pekerja yang baik di masa depan. Bagaimana menurutmu?


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca