Doomscrolling, Brain Rot dan Efek Video Pendek dalam Psikologi

Perkembangan teknologi tidak selalu memberikan dampak yang positif untuk kehidupan. Terlebih jika penggunaannya berada di level yang berlebihan sehingga dampak yang dirasakan jauh lebih negatif hingga berbahaya.

Salah satu fenomena besar terjadi saat tipe konten video pendek menjadi merajalela sejak pandemi. Sekarang hampir semua aplikasi bahkan memiliki format konten video pendek yang terus bergulir tanpa batas. Fenomena inilah yang pada akhirnya membawa perilaku baru, yaitu scrolling.

Apa itu Scrolling?

Scrolling pada dasarnya berarti pengguliran yang lebih melekat pada perilaku berselancar di media social. Scrolling biasanya melibatkan penggeseran teks, gamabr atau video baik secara vertikal maupun horizontal.

Meskipun secara pengertian terlihat cukup normal, nyatanya perilaku ini tidak berhenti dalam 5 atau 10 menit. Banyak orang yang menghabiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk scrolling konten di media sosial yang bahkan tanpa mereka sadari.

Jika terus dilakukan dalam waktu yang lama, hal ini tentu memberikan beberapa efek yang dirasakan langsung seperti sakit/lelah mata, pusing hingga mual. Efek yang lebih parah bahkan bisa terjadi pada anak kecil yang memiliki screen time di luar batas seperti mudah marah hinga merusakn konsentrasi.

Apa itu Doomscrolling?

Tidak hanya sampai situ saja, fenomena ini juga menambah daftar fenomena baru yaitu Doomscrolling.

Doomscrolling berarti kebiasaan scrolling yang berfokus pada penelusuran yang berkaitan dengan berita atau informasi negatif secara terus-menerus meskipun membuat seseorang merasa sedih atau takut.

Terpapar akan hal negatif dalam waktu yang lama tentu akan membawa dampak psikologis yang buruk yang bahkan dapat menyebabkan kecemasan, depresi hingga stres.

Dr. Albers dalam artikel Clevel and Clinic juga menjelaskan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang membuat seseorang merasa harus membaca berita negatif. Menurutnya, saat depresi seseorang menjadi sering mencari informasi yang dapat mengonfirmasi perasaan. Sama seperti doomscrolling yang cenderung terjadi saat seseorang merasa negatif dan mengkonsumsi berita negatif dapat membantu mengonfirmasi ulang perasaan sehingga dapat dengan mudah menjadi kebiasaan.

Doomscrolling bahkan dapat memanipulasi persepsi tentang realitas karena saat seseorang melihat informasi dari satu media yang mengatakan satu hal, tetapi sumber berikutnya memberikan informasi yang bertentangan, seseorang menjadi tidak tahu bagaimana menyelaraskan keduanya.

Mengapa Orang Betah Doomscrolling?

Banyak orang yang mungkin kemudian bertanya, adakah orang yang justru senang menelusuri hal negatif? Jawabannya tentu ada. Singkatnya, fenomena ini terjadi karena adanya keinginan untuk tetap stay up to date, terinformasi, terutama saat terjadi krisis atau masalah besar.

Bahkan dalam studi Sharma, Lee, & Johnson (2022) disebutkan bahwa seseorang yang melakukan doomscrolling justru menyadari perilaku tersebut dan berusaha untuk mengurangi perilaku tersebut.

Lebih lanjut artikel ilmiah Valerie (2023) juga menambahkan bahwa hal ini dapat terjadi karena adanya kecenderungan manusia untuk mencoba memahami situasi yang sedang tidak terkendali dan keinginan untuk mengisi kesenjangan informasi yang dimiliki. Mereka memiliki ekspektasi bahwa mereka akan mendapatkan informasi positif yang dapat membantu untuk mengurangi perasaan takut dan bingung (Anand, Sharma, Thakur, et al., 2021).

The Psch Collective juga menyebutkan beberapa hal psikis yang dapat menjelaskan terjadinya doomscroling, yaitu:

  1. Seeking Mode: Manusia pada dasarnya adalah pencari makan dan informasi. Media sosial menawarkan konten tanpa akhir yang dapat memuaskan dorongan untuk menjelajah.
  2. Reward Reinforcement: Scroling seperti bermain dengan ketidakpastian yang dapat mengarahkan seseorang menemukan konten menarik dan membuat ketagihan. Setiap konten yang menarik melepaskan dopamin yang semakin memperkuat kebiasaan tersebut.
  3. Safe Feeling: Scrolling seringkali memberikan perasaan aman dan pasif untuk bersantai dan melepaskan diri dari stres sehari-hari yang membuat seseorang merasa memegang kendali tanpa risiko di dunia nyata.

Efek Jangka Panjang Doomscrolling Secara Psikologis

Sebagaimana yang disebutkan di atas, scrolling atau doomscrolling dapat memberikan efek dan dampak negatif yang tidak hanya dapat mempengaruhi kesehatan fisik tapi juga mental. Berikut ini beberapa efek buruk dari domscrolling, yaitu:

  1. Merusak Attention Span: Otak menjadi mendambakan stimulasi konstan, sehingga lebih sulit untuk fokus pada hal yang tidak memberikan dampak emosional yang sama.
  2. Membebani Otak: Paparan konten secara terus-menerus akan memenuhi memori otak sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk berpikir produktif atau memecahkan masalah.
  3. Mendistorsi Realitas: Orang yang mengonsumsi berita negatif dalam jumlah besar cenderung melebih-lebihkan bahaya di dunia nyata yang merubah persepsi tentang realitas.
  4. Memperburuk Masalah Mental: Meningkatkan kecemasan dan depresi serta menyebabkan tekanan psikologis, emosi negatif  dan stres yang memperburuk kondisi mental yang sudah ada atau memicu kondisi baru.
  5. Insomnia: Semakin lama menghabiskan waktu untuk scrolling sebelum tidur, semakin besar kesulitan tidur. Terlebih layar cahaya biru dapat mengganggu produksi melatonin atau hormon yang mengatur tidur. Hindari layar setidaknya satu jam sebelum tidur.
  6. Dampak Kognitif dan Emosional: Memperkuat perilaku catastrophizing, di mana mulai mengantisipasi hasil terburuk dalam berbagai skenario. Termasuk lebih intens merasakan emosi takut, sedih dan marah.
  7. Dampak Kesehatan Fisik: Dalam kasus ekstrem, doomscrolling dapat menimbulkan gejala fisik seperti penambahan berat badan, sakit kepala, dan peningkatan tekanan darah.

Awal Mula Brain Rot

Istilah doomscrolling memang pertamakali muncul saat pandemi beberapa tahun lalu namun nampaknya masih tetap terjadi hingga sekarang. Seolah tidak ada habisnya dampak dari penggunaan internet dan medsos yang berlebihan, kini ada fenomena baru yang muncul yaitu Brain Rot.

Istilah Brain Rot ini populer karena munculnya kartun anomali AI “Tung Tung Sahur, Skibidi” yang entah mengapa menjadi begitu populer di kalangan anak kecil. Kartun anomali ini muncul dalam bentuk cerita benda yang seolah hidup dan berkomunikasi dengan bahasa yang tidak lazim.

Dianggap sebagai salah satu video lucu dan viral, anomali Brain Rot ini bahkan tidak hanya menyasar masyarakat Indonesia melainkan sudah mendunia dan menjadi perbincangan hangat. Sayangnya, fenomena ini justru sangat diminati oleh anak-anak dan balita yang masih dalam tahap perkembangan yang labil.

Apa itu Brain Rot

Istilah Brain Rot menjadi pilihan kata dari Oxford di Tahun 2024. Brain Rot atau pembusukan otak sendiri didefinisikan sebagai kondisi kemerosotan mental atau intelekrual seseorang yang muncul akibat konsumsi konten daring yang sepele dan berkualitas rendah secara berlebihan.

Dr. Lotkowski dalam artikel Inspira Health disebutkan bahwa kerusakan otak dapat dikaitkan dengan kebiasaan yang membebani sistem keja otak. Terlebih platform media sosial memiliki algoritma yang dirancang untuk membuat seseorang tetap aktif dan terlibat sehingga  menyebabkan otak menghasilkan lonjakan dopamin singkat setiap kali menonton video lucu. 

Seiring waktu, stimulasi yang terus menerus ini dapat memengaruhi kesehatan kognitif. Meskipun Brain Rot bukanlah sebuah diagnosis medis, fenomena ini menggambarkan adanya  kelebihan beban digital dan dampaknya terhadap fungsi kognitif.

Menariknya meskipun konten tersebut dinilai tidak masuk aka dan berkualitas rendah, konten tersebut justru terasa menarik terutama bagi anak kecil. Hal ini karena dipengaruhi kebiasaan scrolling dan screen time yang tinggi pada anak yang menyebabkannya terus terpapar konten secara berulang sehingga meningkatkan preferensi terhadapnya.

Dalam website Saya Kaya juga menambahkan bahwa ketika seseorang  berulang kali menemukan meme, video, atau frasa yang sama, otak mereka melepaskan dopamin yang memperkuat perasaan senang dan keterikatan. Dopamin inilah yang mendorong seseorang untuk terus mencari konten berkualitas rendah yang sama, dan seiring waktu melatih otak untuk menginginkan stimulus yang familiar dan cepat.

Baca Juga: Birth Order Theory: Benarkah Urutan Kelahiran Mempengaruhi Kepribadian?

Ciri, Gejala dan Efek dari Brain Rot

Ciri dan gejala brain rot tidak terlepas dari efek yang ditimbulkan dari scrolling atau paparan konten yang berlebihan. Berikut ini beberapa tandanya, yaitu:

  • Kecanduan media sosial dan konten singkat.
  • Kesulitan dan penurunan daya ingat dan berpikir kritis.
  • Sulit fokus pada tugas yang lebih panjang dan kompleks.
  • Sering merasa terkuras secara mental dan kurang produktif.
  • Mudah bosan, cemas atau stres
  • Kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai.
  • Sulit untuk melepaskan diri dari gadget
  • Mengalami mata lelah atau sakit kepala setiap selesai memainkan gadget
  • Terus-menerus memikirkan objek konten.
  • Mudah marah, tersinggung atau sedih.
  • Kesulitan tidur.
  • Gerakan motorik yang terus menerus mengikuti konten.
  • Menarik diri dari lingkungan

Video Pendek, Scrolling dan Brain Rot

Brain Rot dapat dikatakan menjadi salah satu dampak besar yang dapat dialami oleh seseorang yang kecanduan media sosial atau melakukan scrolling secara berlebihan. Hal ini tentunya diperparah dengan banyaknya konten video berdurasi pendek yang selalu ada di hampir setiap medsos.

Platform video pendek baik itu TikTok, Shorts dan Reels ring kali menyajikan konten di bawah 90 detik yang dirancang untuk menarik perhatian secara instan. Video pendek ini melibatkan proses kognitif yang cepat, meningkatkan lonjakan dopamin sehingga tidak melibatkan pemikiran mendalam.

Menurut InvestGlass, daya tarik video pendek terletak pada interaksi kompleks antara faktor kognitif, emosional, dan sosial. Video singkat dapat memenuhi preferensi otak karena konten yang cepat dan mudah dicerna sehingga siapapun dapat memahami dan mengingat informasi dengan cepat.

Belum lagi maraknya konten video viral yang lucu seringkali mengundang tawa dan menciptakan pengalaman menonton yang lebih menyenangkan. Secara sosial, banyak content creator dan tren yang bermunculan dapat meningkatkan keinginan untuk mendapatkan validasi sosial.

Algoritme media sosial juga terus menyajikan konten yang sesuai dengan minat pengguna sehingga meningkatkan waktu menonton dan memperkuat sifat adiktif platform.

Aliran konten yang terus menerus ini jugalah yang akhirnya mengembangkan pola pikir jangka pendek untuk mencari kemuahan dan kesenangan yang instan sehingga memberikan dampak psikologis yang signifikan, seperti: meningkatnya prokrastinasi akademik, self control yang buruk serta kecenderungan pada kecemasan, depresi dan stres.

Tips Menggunakan Ponsel dan Media Sosial yang Sehat

Lantas bagaimana sebaiknya menyikapi penggunaaan media social yang benar? Berikut ini beberapa tips dan cara untuk mencegah terjadinya doomscrolling dan brain rot, yaitu:

  1. Tetapkan Batasan: Batasi konsumsi konten berita ataupun media sosial setiap harinya menggunakan pengingat ataupun alarm. Tetapkan jadwalkan waktu khusus untuk scrolling dan patuhi itu.
  2. Jadwalkan Waktu Bebas Layar: Tetapkan waktu tertentu untuk melepaskan diri dari gadget. Lepaskan diri dari internet dan gunakan waktu ini untuk melakukan aktivitas lain atau hobi.
  3. Cari Berita yang Positif: Cari berita atau konten yang mengandung hal positif agar dapat menyeimbangkan konsumsi konten dan membangkitkan perasaan semangat dan harapan akan kondisi lingkungan.
  4. Mindfulness: Kelola pikiran dan emosi dengan mindfulness seperti meditasi, deep breathing atau breathing exercises untuk mengurangi perasaan takut dan stres.
  5. Terhubung dengan Sosial:  Koneksi antara individu dengan orang lain penting untuk kesehatan dan kesejahteraan mental. Tetap terhubung dan berinteraksi dengan keluarga ataupun teman adalah salah satu hal yang paling penting dilakukan.
  6. Kurasi Feed: Ikuti sumber tepercaya dan mute akun yang menimbulkan kemarahan dan ketakutan.
  7. Baca Menyeluruh: Baca konten dengan lengkap, bukan hanya judulnya saja agar dapat memproses informasi dengan lebih mudah. Biasakan membaca setiap bagian dan menyerap informasinya.
  8. Ganti dengan tindakan: Jika sebuah konten membuat kesal, carilah cara nyata untuk melampiaskannya dengan baik alih-alih terus-menerus mengonsumsi berita buruk.
  9. Simpan dan Pindahkan Ponsel: Simpan dan letakkan ponsel di ruangan lain agar tidak bisa dijangkau lagi.
  10. Perhatikan Perasaan: Perhatikan bagaimana sebuah konten dapat memengaruhi perasaan dan amati respons pikiran terhadap konten tersebut/ Apa pun tandanya, perhatikan. Itulah cara tubuh memberi tahu untuk berhenti.
  11. Hindari Berpikir Buruk: Berpikir secara berlebihan (catastrophizing) bisa menjadi gejala stres, kecemasan, dan depresi. Berlatihlah mengendalikan pikiran dengan bertanya pada diri sendiri apa hal yang lebih realistis dari situasi ini alih-alih berasumsi hal terburuk yang mungkin terjadi.
  12. Periksa Ponsel Secara Sadar: Perhatikan seberapa sering membuka ponsel. Saat mengangkat telepon, berhentilah sejenak dan sadari apa yang sedang dilakukan.
  13. Perlambat Scrolling: Cobalah untuk mengurangi kecepatan scroling.  Rentang perhatian manusia sudah sangat pendek dan ketika scrolling dengan cepat, kita terus memperpendek durasinya.
  14. Fokus Saat Ini: Kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi tetapi kita memiliki kendali atas apa yang terjadi saat ini. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang akan membuat diri merasa lebih baik saat ini.
  15. Berlatih bersyukur: Terkadang, melihat suatu konten dapat memberi perspektif tentang kehidupan diri sendiri. Berlatihlah untuk menanamkan rasa syukur agar suasana hati lebih baik.
  16. Gerakkan Tubuh: Gerakan yang penuh kesadaran dapat membantu Anda melepaskan diri dari layar. Baik dengan berjalan kaki atau berolahraga untuk membantu menenangkan pikiran.
  17. Putuskan sambungan: beralih ke mode analog dan rehat sejenak dari media sosial, menjauh, tarik napas, dan mulai lagi nanti.

Kesimpulan

Itulah serangkaian penjelasan mengenai fenomena doomscrolling, brain rot dan video pendek dalam Psikologi. Teknologi ada sebagai alat bantu untuk mempermudah kehidupan sehari-hari, jadi sebaiknya tidak digunakan secara berlebihan hingga kecandungan.

Dalam penerapannya, penting untuk meningkatkan kesadaran, kontrol diri dan mendidik diri sendiri maupun anak di bawah umur untuk menggunakan internet dan media sosial dalam batas yang wajar dan selalu memprioritaskan kesejahteraan fisik dan mental.

Reference:


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca