The Girl Called Feeling

Review Buku: The Girl Called Feeling

What’s Behind The Book

  • Judul: The Girl Called Feeling
  • Penulis: Neal Wu
  • Penerbit: Haru
  • Halaman: 226
  • Genre: Novel Romantis
  • Tahun Terbit: 2019
  • Harga: Rp. 69.000
  • Blurb:

Rambutmu sangat indah.
P.S: Bolehkah aku tahu namamu?
Dari pria yang duduk di belakangmu.”

Xiang Pu bertemu Feeling, cinta pertamanya, di sebuah bimbingan belajar. Sekian lama Xiang Pu menyimpan perasaan pada gadis itu. Dia lakukan semua cara pendekatan agar gadis itu mengetahui perasaannya. Sayangnya, kisah mereka kemudian terhalang jarak, kesibukan, bahkan orang baru yang hadir kemudian.

Akankah kisah mereka bisa berakhir bahagia layaknya dua sejoli dalam kisah romansa?

Why I Read This Book?

Bulan Mei lalu, Penerbit Haru membuka gudang distributor di dekat rumah. Sebagai pecinta buku terbita haru, aku tertarik untuk membeli buku di sana karena banyak dijual dengan harga murah. Meskipun tidak begitu lengkap, ada beberapa buku yang tertarik aku beli, salah satunya The Girl Called Feeling.

Sebetulnya, buku ini sendiri merupakan buku terbitan lama yang sudah lama mendekam di keranjang marketplace-ku. Hanya saja aku menunggu waktu yang tepat untuk membelinya, yaitu sekarang. Aku berhasil mendapatkan harga super miring sebesar Rp 20.000 untuk membeli buku ini.

Kenapa buku ini? Tidak banyak alasan, karena aku tipe yang suka buku selain dari blurb, juga dari judul. Terlebih karena ini novel mandarin terjemahan, aku merasa tertarik untuk membacanya.

My Impression and Rating

Sebetulnya tidak banyak ekspektasi yang ku harapkan ketika membacanya. Hanya karena ini buku mandarin dan aku sedang senang menonton cdrama, aku tertarik untuk mulai mencari novel yang berlatar belakang negeri sana. Aku membawa buku ini saat di perjalanan menuju Jogja yang syukurnya dapat ku selesaikan sebelum aku tiba di penginapan.

Awalnya, buku ini memberikan kesan novel klasik dengan beberapa gaya cerita yang terkesan rumit. Meski demikian, saat penulis sudah lebih fokus pada inti kisah, novel ini dapat dibaca dengan lebih mudah.

Cerita novel ini sendiri berlatar belakang di era 95an dengan pemeran utama Xiang Pu dan temannya yang bernama Zi Yun. Keduanya merupakan sahabat dengan gaya pertemanan yang sangat asyik khas anak laki-laki. Sampai akhirnya Xiang Pu menyukai salah satu perempuan yang dipanggil dengan Feeling. Ya, jadi feeling adalah nama panggilan dari tokoh perempuan pertama di cerita ini.

Cerita ini sebenarnya dapat dideskripsikan dalam beberapa ungkapan, “He Fell First and He Fell Harder”, “Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama” dan “Cintanya Habis di Orang Lama”. Itulah kesimpulan yang paling gampang menggambarkan betapa Xiang Pu sangat menyukai Feeling.

Ceritanya dibungkus dengan berbagai usaha Xiang Pu yang berusaha dekat dengan feeling yang saat itu berada di SMA dan berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya mereka lulus dari sekolah.

Hal yang paling aku sukai dari novel ini adalah bagaimana penulis mampu memberikan percakapan atau deskripsi yang penuh ilmu namun sangat asik. Apalagi jika sudah membahas tentang gaya sahabatan Xiang Pu dan Zi Yun yang sangat solid dan memiliki kepribadian yang berbeda namun saling melengkapi.

Konflik utamanya kurasa bertumpu pada sosok Feeling yang terlihat misterius dan sulit dijangkau. Beberapa kali Xiang Pu mencoba menedekatinya, Feeling tetap saja hanya merespon sekadarnya saja.

Lalu apa Xiang Pu menyerah? Tentunya tidak. Bahkan sejauh apapun mereka dan sesibuk apapun Xiang Pu, dia selalu memikirkan Feeling dan menunggu kabar darinya. Bucin akut mungkin kata yang paling menggambarkan Xiang Pu dengan Zi Yun yang terus berusaha menyadarkannya.

Meskipun berpusat pada Xiang Pu, aku amat sangat menyukai kepribadian Zi Yun yang berwawasan dan lebih berpikir panjang. Ah, satu lagi ada tokoh bernama Zhao Yi yang merupakan teman perempuan Xiang Pu.

Disinilah bagian ceirta yang paling aku sukai, saat dimana Feeling terasa jauh, Zhao Yi hadir dalam hidup Xiang Pu. Zhao Yi menyukai Xiang Pu dan seringkali berusaha memberikan tanda-tanda agar Xiang Pu menyadarinya.

Puncaknya yang paling memorable bagiku adalah saat dimana Zhao Yi pergi dengan Xiang Pu untuk membelikannya kado. Karena tidak tahu hendak membeli apa, Zhao Yi membelikannya kertas origami. Zhao Yi ingat bahwa Xiang Pu sering membuat bangau kerta (setiap kali ia merindukan Feeling yang totalnya mencapai 41,300).

Di surat itu, Zhao Yi hanya berpesan agar Xiang Pu juga dapat memberikan bangau kertas untuknya setidaknya satu atau dua (yang secara tidak langsung memintanya untuk juga memikirkan atau menyukainya).

Namun sebagai seorang perempuan, Zhao Yi hanya terus berusaha mengelak meskipun ia sempat berteriak bahwa ia menyukai Xiang Pu. Kalian tahu bagaimana tanggapan Xiang Pu? Dia dari awal sudah merasa bahwa Zhao Yi menyukainya, hanya saja tidak ada satu pun perasaan untuknya, Xiang Pu hanya bisa menemani dan bertemu dengannya.

Lalu bagaimana kisahnya dengan Feeling? Meskipun sempat jauh, dalam beberapa kesempatan mereka sempat bertemu dalam hubungan yang masih tidak jelas. Pada akhirnya, Feeling tetap meragukannya dan berkata untuk tidak menyukainya. Keraguan yang pada akhirnya berujung pada perpisahan dan kehilangan cinta Xiang Pu yang sudah dipupuk selaam 6 tahun lamanya.

Inilah mengapa aku tidak menyangka bahwa cerita ini akan berjalan begitu menarik tanpa ku duga. Ku rasa jika cerita ini diangkat sebagai film akan lebih menyenangkan. Seperti bagaimaan C-Movie yang selalu memberikan open ending di akhir kisahnya.

Bagi kalian yang menyukai kisah-kisah seperti ini atau suka menonton drama, ku rasa buku ini akan cocok untuk kalian. Aku juga salut dengan bagaimana penulis mampu mencampurkan prolog dan epilog yang terasa seperti bagian dari cerita ini.

Buku ini ku beri rating 4.9/5. Yuk, baca juga bukunya.

Favorite Quote

Kelemahan sifat manusia adalah ketika mereka tidak bisa mendapatkan yang diinginkan, merek secara instingtif akan menurunkan keinginan tersebut dan mengharapkan kebahagia yang paling mendasar. Namun, untuk mendapatkan kebahagiaan yang paling kecil pun juga harus menunggu, maka yang tersisa hanyalah martabat dan tubuh yang sangat lelah.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca