What’s Behind The Book
- Judul: Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
- Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ
- Penerbit: Gramedia
- Halaman: 191
- Genre: Self Improvement
- Tahun Terbit: 2023
- Harga: Rp. 95.000
- Blurb:
Ketika menyambut pasien yang sedang berduka, seorang psikiater akan menggali keilmuan yang dimiliki. Dia akan mengulik semua teori duka yang pernah dipelajari di masa kuliah dulu dan mengingat pengalaman dari pasien-pasien sebelumnya. Kemudian, dia menyintesis itu untuk membantu pasien yang sedang berduka di hadapannya.
Tapi, ketika Andreas—seorang psikiater—kehilangan anaknya, dia melakukan hal yang berbeda. Dia melemparkan semua teori tersebut ke luar jendela dan memutuskan untuk mencari makna tentang mengapa ini semua terjadi. Dalam pengalamannya, dia menemukan bahwa duka bisa dilalui dengan mencuci piring kotor yang menumpuk di dapur.
Buku ini adalah proses Andreas memaknai kehilangan besar dalam hidupnya. Diceritakan santai dengan tambahan sedikit bumbu humor gelap, buku ini memuat panduan bermanfaat yang langsung bisa diaplikasikan dalam hidup, seperti: “Tutorial Mencuci Piring”, “Tutorial Menyusun Puzzle”, dan tentunya “Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak”.
“Hampir semua orang mempertanyakan: apa hubungannya antara duka dan mencuci piring? Jawaban saya adalah duka itu seperti mencuci piring, tidak ada orang yang mau melakukannya, tapi pada akhirnya seseorang perlu melakukannya.”
Why I Read This Book?
Hmm perjalanan yang panjang ya untuk aku bisa membeli buku ini. Pertama kali tau buku ini itu pas buku ini dapat penghargaan Book of the Year 2024 dari IKAPI, tentu jadi penasaran dong apa yang membuat buku ini menjadi menarik. Tentu selain dari judul, buku yang satu ini memang cukup unik dan bisa memikat siapapun untuk setidaknya membaca bagian blurb nya.
Namun karena saat itu aku belum terlalu tertarik dan ingin mencari buku lain, aku pun melewatkan buku ini. Nah masih di awal tahun ini, aku menemukan sebuah lomba resensi buku non fiksi dari penerbit ini yang tentu salah satu buku yang diikutsertakan adalah buku ini. Lagi, karena aku belum punya bukunya aku pun melewatkan kesempatan ini.
Dan taraa~ di hari terakhirku magang, user ku justru membelikanku buku ini. Katanya, “Kamu kan anak Psikologi, kayanya ini cocok deh buat kamu”. Selain buku ini, ada buku lain yang juga gak kalah kerennya yang akan aku review setelah menulis ini.
Baca Juga: Review Buku: The Girl Called Feeling
My Impression and Rating
Cuci piring, siapa yang gak familiar dengan ini? Sepertinya ini adalah salah satu pekerjaan rumahan yang paling tidak disukai kedua oleh banyak orang. Apa yang di urutan pertama? Ya tentunya, menyetrika dong.
Seperti yang aku bilang, selain karena judulnya yang panjang dengan kata “mencuci piring” banyak orang yang mau tidak mau penasaran akan isi buku ini. Di tambah visual cover dari buku ini juga cukup menarik dengan latar belakang pria yang sering cuci piring.
Sebagaimana judul dan blubrnya, buku ini memang membahas tentang duka yang dialami oleh penulis sekaligus psikiater ini. Menjadi psikiater tidak mengecualikannya untuk bisa melewati duka dengan lebih baik dari orang lain, karena bagaimana pun psikiater juga manusia biasa.
Namun setidaknya dengan latar belakang profesional ini, sang penulis setidaknya bisa sedikit membantu mengarahkan dirinya menghadapi duka dengan wajar. Walau bagaimana pun juga tidak akan ada orang yang benar-bena siap dengan duka akan kematian.
Kisahnya yang kehilangan sosok anak dan ayah terkasih membuat penulis memandang duka seperti mencuci piring. Mau tak mau bagaimana pun juga harus dikerjakan dan harus dihadapi.
Buku ini sendiri mencertikan dengan cukup rinci perjalanan menjelang, saat dan selepas duka akan kematian orang terdekat dan terkasih. Yang, tentunya mengundang banyak isak tangis dari hampir setiap pembacanya.
Bagian yang paling aku suka dari buku ini adalah saat penulis mencurahkan isi hatinya terhadap orang yang ditinggalkan dan bagaimana ia dan sang istri mencoba untuk menghadapinya secara perlahan.
Hal ini tidak hanya menggambarkan betapa sulitnya menjalani kehidupan setelah ditinggalkan tetapi juga memberikan ruang bagi penulis untuk setidaknya merekam dan mencurahkan perasaan duka yang mungkin tidak bisa diungkapkannya secara gamblang dengan omongan.
Benar seperti kata penulis, aku yang membacanya juga bisa mengalirkan rasa sayang kepada anaknya, Hiro yang merupakan sosok kecil yang begitu hebat. Aku juga salut dengan bagaimana penulis dan istrinya mampu merawat Hiro dengan penuh kasih sayang bahkan di situasi pandemi yang sangat mencekam.
Salah satu bagian yang juga sangat penting adalah perasaan dan kebiasaan yang perlu ditata ulang setelah berduka. Perasaan selain sedih, menyesal, terluka hingga marah mungkin umum dialami oleh mereka yang ditinggalkan.
Namun timbulnya hal lain seperti berapa lama waktu yang wajar untuk berduka, kapan orang berduka boleh tertawa dan bahagia kembali atau bahkan perasaan lega karena tidak lagi melewati masa sulitlah yang seringkali menimbulkan luka tidak terlihat bagi mereka yang berduka.
Penulis selalu menekankan bahwa perjalanan setiap orang melalui duka sangat berbeda. Ada yang butuh waktu sebentar, 3 bulan, 6 bulan atau bahkan 10 tahun. Tidak ada yang bisa memastikan. Yang terpenting bukan bagaimana perasaan duka itu tetapi bagaimana sikap dan perjalanan yang dilalui setelah itu.
Kita mungkin pernah mendengar istilah New Normal saat pandemi berakhir, nah penulis juga menggunakan istilah ini dalam menjalani hari-hari setelah berduka.
Sama seperti virus tersebut yang masih dan akan tetap ada, kita perlu menjalani kehidupan yang disesuaikan untuk hidup berdampingan dengannya. Hidup berdampingan dengan perasaan duka dan kenangan dengan orang tercinta.
Buku ini adalah buku tentang duka kedua yang aku baca setelah buku Things Left Behind yang tidak hanya mengajarkanku tentang pengalaman berduka tapi juga ikut membayangiku tentang bagaimana jika aku yang menjadi pemberi duka. Sudah sebaik apa kehidupan dan kondisi yang akan aku tinggalkan nantinya. Apa yang aku harapkan dari orang-orang yang akan aku tinggalkan nantinya.
Terakhir, pelajaran penting yang sangat membekas bagiku yang juga menjadi quotes favorit dari buku ini adalah bagaimana saat kita berduka, terluka dan gagal kita selalu saja membatin kepada Tuhan “Mengapa Aku?”, tapi bukankah kita juga yang tidak pernah membatin saat sedang bahagia, mendapat kesempatan atau penghargaan “Mengapa Aku?”.
Lagi-lagi ternyata diri kita sendiri yang begitu jauh dan lupa saat Tuhan memberikan kenikmatan tapi begitu merasa tersakiti dan dekat saat Tuhan memberikan kita cobaan.
Bagaimana dengan rating buku ini? Buku ini ku beri rating 4.8/5. Yuk untuk kamu yang belum baca, jangan lupa beli buku ini dengan harga yang lebih murah dengan klik button berikut ya:
Favorite Quote
ketika aku mengangkat piala juara, aku tidak menanyakan kepada Tuhan, “Mengapa Aku?”… ketika mengalami rasa sakit, aku seharusnya tidak menanyakan kepada Tuhan, “Mengapa Aku?” dan aku berharap suatu hari pun aku bisa berhenti bertanya “Mengapa Aku?”.

Tinggalkan Balasan