Salah satu Psikolog Indonesia, Reynitta Poerwito Muthalib diwawancarai oleh sebuah organisasi yang diberitakan dalam (Indonesia: Psychological Effects of Street Harassment, 2017) tentang bagaimana pengalamannya mengalami pelecehan di jalanan yang menjengkelkan dan mengganggunya.
Dalam wawancara tersebut dia menjawab bahwa saat berusia 13 atau 14 tahun saat melewati pasar tradisional yang merupakan rute menuju sekolahnya, yang dilalui setiap hari. Saat ia berjalan melewati sekelompok laki-laki, mereka bersiul kepadanya. Dia berusaha untuk menghindar, namun salah satu dari mereka berjalan di sampingnya dan mengolok-oloknya. Dia tidak berpikir banyak dan langsung berusaha meningalkan tempat itu secepat mungkin. Meskipun itu pengalaman waktu dia masih kecil namun itu sangat melekat di ingatannya dan kadang-kadang menghantuinya.
Kejadian di atas bahkan hampir semua wanita pernah mengalaminya dan atau melihat orang lain mengalaminya. Seperti yang diungkapkan survei dalam (Gattuso, 2017) sebanyak 85% wanita melaporkan mengalami pelecehan di tempat umum seperti menatap, komentar seksual, siulan, dan bahkan meraba-raba sebelum mereka berusia 17 tahun.
Survei lain menyebutkan dalam (Sophie Fisher, 2017) bahwa 28-47% wanita mengalami komentar atau perhatian seksual yang tidak diinginkan setidaknya sekali setiap beberapa hari. Seolah ini menjadi hal yang lumrah dan tidak menyakitkan siapapun. Padahal hal tersebut termasuk ke dalam pelecehan di jalan (street harassement) yang termasuk ke dalam jenis catcalling.
Definisi Catcalling
Catcalling adalah sebuah panggilan, komentar, tidak jarang berupa tatapan atau siulan yang ditunjukkan kepada seseorang dengan maksud menggoda secara seksual. Kebanyakan di alami oleh perempuan yang berjalan melewati seseorang atau sekelompok laki-laki.
Para pelakunya juga tidak hanya laki-laki dewasa, bahkan anak-anak di bangku sekolah banyak yang melakukan catcalling kepada teman perempuan mereka.
Catcalling tentu saja menimbulkan ketakutan, malu, minder, kecemasan, dan kekhawatiran bagi korbannya. Bahkan (Gattuso, 2017) menambahkan bahwa hal tersebut bisa berdampak negatif bagi kesehatan mental korbannya seperti: depresi dan stress.
Catcalling juga ikut menghambat kehidupan sosial para korban karena merasa takut, tidak bebas dan selalu cemas jika akan berpergian.
Sebagaimana berdampak pada kesehatan mentalnya, ini juga berdampak ke kognisi korban, diantaranya:
- Korban akan mempunyai persepsi buruk setiap kali ingin melewati jalan dan dilihatnya seseorang atau sekumpulan laki-laki. Dia menginterpretasikan situasi tersebut berdasarkan pengalamannya. Jika dia tetap melewatinya, maka akan ada hal tidak menyenangkan yang akan didapatinya.
- Dalam penyelesain masalah untuk menghindari catcalling, korban akan memilih untuk melewati jalan lain yang bahkan lebih jauh dari jalan yang seharusnya ia lewati hanya karena ada sekumpulan laki-laki. Korban juga akan berpikir evaluatif dengan menilai bahwa berjalan di depan atau sekumpulan laki-laki adalah hal yang buruk.
- Korban akan memutuskan untuk lebih mengenakan pakaian yang tertutup agar tidak ’mengundang’ laki-laki untuk melakukan catcalling terhadapnya.
- Korban menyimpan kejadian tersebut ke dalam memorinya sebagai ingatan negatif yang selalu diingatnya karena pengalamannya itu terkait dengan keselamatannya, berarti baginya dan membangkitkan emosinya (Pramudita, 2015).
Mungkin banyak orang akan berpendapat bahwa hal tersebut tidak akan terjadi jika perempuan tidak mengenakan pakaian yang akan ’mengundang’ laki-laki untuk melakukan catcalling. Tapi menurut Reynitta (Indonesia: Psychological Effects of Street Harassment, 2017) hal itu tidak bisa disalahkan secara langsung, karena setiap orang berhak untuk berpakaian sebagaimana yang dia inginkan.
Dalam beberapa kasus juga membuktikan bahwa bahkan wanita yang berpenampilan sangat tertutup pun seperti bercadar dan berhijab masih saja menjadi korban pelecehan. Lantas, bagaimana selanjutnya kita bertindak?
Catcalling akan terus berlanjut jika korban tetap membiarkan dan tidak menindak tegas para pelaku. Tidak lebih karena kebanyakan dari korban adalah wanita, mereka tidak cukup berani untuk melawan para pelaku dan lebih memilih untuk menghindar, menjauh dan meninggalkan tempat secepat mungkin. Sehingga para pelaku tidak akan merasa bahwa hal tersebut tidak benar dan tidak seharusnya dilakukan.
Cara Mencegah Catcalling
Berikut ada beberapa cara agar kita dapat mulai mencegah catcalling:
- Meningkatan self awareness. Setiap individu harus memlikiki kesadaran dan keberanian lebih karena mereka berhak untuk bertindak tegas agar tidak terulang kembalinya catcalling. Orang dewasa juga sudah sepatutnya meningkatkan kesadaran untuk berperilaku yang baik agar anak-anak tidak berperilaku buruk.
- Perlunya social support. Terkadang orang terdekat korban hanya menganggap remeh catcalling, padahal dukungan mereka sangat dibutuhkan agar selain dapat memberantas bersama para pelaku juga dapat menolong kesehatan mental korbannya.
- Membuat gerakan kampanye ’Stop catcalling! Stop harrasement!’. Salah satu contohnya adalah Organisasi Stop Street Harrassement yang mengkampanyekan pemberhentian pelecehan di jalan, mereka juga membuat blog berisi beragam artikel yang terus mengupadate kampanye ini. Kalian dapat mengunjungi situsnya di stopstreetharassement.org.
- Sosialisasi dan peninjauan hukum yang sesuai. Ketidaktahuan masyarakat mengenai catcalling yang termasuk ke dalam pelecehan, membuat catcalling terus merajalela di tengah masyarakat. Maka perlu adanya sosialisasi baik melaui media, pelajaran sekolah, atau bentuk sosialisasi lainnya. Selain itu, hukum perlu ditunjau kembali terkait dengan pelecehan seksual karena masih belum cukup untuk melindungi para korban.
Reynitta dalam (Indonesia: Psychological Effects of Street Harassment, 2017) bahkan menggunakan istilah ”Mental Revolution” untuk mencegah perilaku ini. Menurutnya, para pelaku mengancam hak korban dan bertindak berdasarkan moral yang rendah. Mereka tidak mempertimbangkan perasaan orang lain dan cenderung menindas korban. Kesadaran mereka tidak cukup baik untuk berempati kepada sesama.
Berdasarkan paparan di atas, catcalling adalah sebuah panggilan, komentar, siulan dan juga tatapan pada seseorang yang bersifat menggoda secara seksual termasuk ke dalam pelecehan. Tidak sepatutnya hal ini dibiarkan dan diangap biasa atau bahkan hanya perbuatan iseng belaka.
Catcalling berdampak besar bagi korbannya termasuk akan menghambat kehidupan sosial korbannya karena rasa ketakutan dan kecemasan yang dirasakannya. Mari bersama merangkul para korban dan memberikan efek jera kepada pelaku agar tidak kembali terjadi hal yang tidak inginkan.
Oleh karena itu, diharapkan semua orang mampu untuk saling menjaga keamanan dan kenyamanan dalam bermasyarakat sehingga tidak merugikan atau menyakiti sebelah pihak. Jika setiap orang tidak suka diganggu oleh orang lain, maka alangkah baiknya jangan mengganggu orang lain.

Tinggalkan Balasan