Dua tahun belakangan perbedaan karakter antar generasi sering menjadi perbincangan dan perdebatan yang tidak ada habisnya di dunia maya. Saling membandingkan satu generasi dengan generasi lainnya hanya untuk melihat generasi mana yang karakternya lebih baik dari yang lain.
Padahal setiap generasi tentu memiliki dua sisinya masing-masing. Kekurangan yang ada di satu generasi harusnya bisa menjadi pelajaran bagi generasi lain agar bisa hidup lebih baik.
Generasi tua-muda saat ini tidak akan hidup selamanya, pergantian generasi akan selalu ada. Poin pentingnya adalah bagaimana bersama-sama membangun generasi yang lebih baik untuk membangun peradaban yang lebih maju.
Meskipun saat ini dunia sudah mulai didominasi oleh Gen Z, bukan berarti Gen Z bernilai lebih baik dari generasi sebelumnya. Selaku Gen Z, penulis bahkan melihat adanya paradoks berkaitan dengan sikap dan karakter Gen Z yang masih jarang dibahas. Apa saja karakter tersebut?
1. Tidak Selalu Open Minded
Banyak orang menilai dan mengklaim bahwa Gen Z cenderung lebih Open Minded atau memiliki pemikiran yang lebih terbuka akan segala hal tanpa menghakimi. Namun kenyataannya tidak selalu begitu.
Mungkin betul pada beberapa hal yang generasi dulu sulit terima dan mengerti tapi dengan mudah dipahami dan diterima oleh Gen Z tanpa adanya penghakiman.
Walau demikian hal itu tidak berlaku pada semua hal. Nyatanya masih banyak Gen Z yang juga memiliki sikap keras kepala dan sulit untuk menerima pendapat atau pemikiran orang lain.
Bahkan di media sosial saja bisa dengan mudah ditemukan banyak perselisihan yang berkepanjangan setelah melihat pemikiran orang lain. Mirisnya ketidaksetujuan tersebut lebih banyak pada hal-hal yang positif dibandingkan ketidaksetujuan akan hal-hal negatif.
2. Terlalu Mengkotakkan Hubungan Sosial
Jika generasi dulu mungkin cenderung banyak berinteraksi dan berhubungan sosial dengan berbagai macam orang dan kalangan. Sayangnya Gen Z justru menjadi lebih detail dalam menjalani hubungan sosial. Hal yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah.
Benar bahwa tidak apa jika pertemanan kita terbatas pada minat atau orang dengan sudut pandang atau humor yang sama saja. Namun hal ini tanpa disadari sekaligus mempersempit dan menutup kemungkinan kita menjalin koneksi dengan orang lain karena terlalu mengkotakkan hubungan sosial.
Terkadang penulis begitu amaze dengan bagaimana generasi sebelumnya memiliki koneksi dan jejaring yang begitu luas. Sedangkan Gen Z hanya mengizinkan orang dengan standar tertentu yang bisa hadir dan menjalin hubungan sosial dengannya.
3. Kurang Berusaha Introspeksi Diri
Gen Z saat ini mungkin lebih sering banyak dipermasalahkan oleh generasi atas, terutama dari etika dan adab. Namun dibandingkan berusaha menilai apakah hal tersebut benar atau tidak, Gen Z justru lebih sibuk dengan menyalahkan orang lain daripada instrospeksi diri lebih dulu.
Kesadaran untuk mulai berusaha merubah kekurangan atau setidaknya melakukan introspeksi diri ini juga menjadi paradoks tidak terpisahkan dari Gen Z. Sekalipun apa yang kita lakukan benar dan tidak merugikan, tidak ada yang salah jika kita mulai mengintrospeksi diri sendiri.
Terkadang kita terlalu mengganggap diri kita lebih tinggi sehingga memandang bahwa pemikiran orang lain hanya untuk menjatuhkan. Padahal orang lain yang melihat cerminan diri kita, bukan kita sendiri.
4. Berkompetisi Pada Hal yang Tidak Perlu
Banyak dan cepatnya informasi yang Didapatkan dari media sosial seringkali membawa Gen Z terbawa pada tren-tren yang ada. Beberapa orang mungkin bisa dengan mudah mengikuti tren atau menjadikannya sebagai selingan belaka.
Sayangnya hal ini justru belum bisa dicerna dengan baik oleh kebanyakan Gen Z. Tren yang sekiranya hanya berlangsung cepat seolah harus dikonsumsi dan diikuti tanpa terkecuali.
Istilah Fear or Missing Out atau FoMo ini tidak berarti apa-apa karena seolah sudah menyatu dengan karakter Gen Z. Akibatnya, banyak Gen Z sampai sekarang justru berlomba mengikuti standar dan hal-hal yang akan terus selalu berganti.
5. Kurangnya Sikap Penerimaan
Gen Z banyak dipermasalahkan karena keberaniannya untuk lebih unjuk diri mengedepankan kesehatan mental. Hal ini tentunya sangat bagus untuk mendukung kampanye kesadaran kesehatan mental bagi masyarakat.
Tanpa mengesampingkan kesulitan yang nyata dialami, terkadang kita sebagai Gen Z mungkin belum sepenuhnya berlapang dada dan menerima apa yang tengah atau telah terjadi.
Penerimaan atau acceptance bahkan seringkali dibahas menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kesehatan mental. Dengan menerima seutuhnya diri sendiri kita bisa merasa lebih tenang dan nyaman melakukan apapun.
Kita tidak lagi mempermasalahkan hal di luar diri yang tidak bisa kita ubah. Dengan menerima kita akan cenderung lebih bisa melihat dan memikirkan sesuatu menjadi lebih positif sehingga mengurangi kekhawatiran dan stres yang kita rasakan.
6. Sulit Mengontrol Keinginan Pribadi
Belakangan banyak isu tentang prediksi bahwa Gen Z tidak akan mampu membeli rumah karena tingginya perilaku konsumtif. Meskipun pada beberapa klaim menunjukkan bahwa harga properti yang terus meninggi jadi penyebabnya, nyatanya perilaku konsumtif yang tinggi juga ikut menjadi sebab.
Perilaku konsumtif ini sendiri berasal dari ketidakmampuan untuk mengelola kemampuan dalam mengelola self control dan menentukan skala prioritas yang ada.
Ditambah adanya istilah Living The Moment membuat Gen Z menjadi lebih memikirkan keadaan saat ini dibandingkan di masa depan. Hal ini yang mau tidak mau harus diakui bahwa sudah saatnya untuk Gen Z bisa lebih mengatur keinginan dan perilaku impulsifnya.
7. Sulit Mengikuti Peraturan
Gen Z dengan sifatnya yang ekspresif akan lebih sering bersikap dan berperilaku sesuai dengan keadaan diri mereka sendiri. Tidak heran kebanyakan Gen Z ditemukan lebih sulit untuk mengikuti aturan yang ada.
Gen Z mementingkan adanya fleksibilitas aturan agar bisa lebih leluasa untuk mengembangkan diri mereka. Meski benar bahwa fleksibilitas menjadi salah satu skill yang juga harus dimiliki, nyatanya ada beberapa hal yang tidak bisa diubah-ubah begitu saja.
Gen Z harus lebih banyak belajar untuk bisa membedakan mana hal yang bisa dibuat fleksibel dan mana yang tidak. Terutama berkaitan dengan aturan baku yang berlaku di beberapa tempat atau kelompok.
Pentingnya untuk mengikuti nilai yang berlaku di belahan bumi manapun ia berpijak. Tidak selamanya aturan yang kaku hanya membuat seseorang menjadi tidak berkembang. Aturan diperlukan untuk membentuk disiplin dan menjaga keharmonisan bersama.
itulah 7 paradoks akan karakteristik Gen Z yang masih jarang dibahas. Setiap sisi kurang baik yang satu generasi miliki tidak perlu menjadi aib yang harus ditutupi dan tidak diterima.
Sebaliknya terima sifat buruk tersebut sembari berusaha untuk bisa memikirkan cara untuk bisa perlahan merubah sikap, karakter atau perilaku yang dimiliki.
Meskipun banyak anggapan bahwa seiring banyaknya keadaan dan kondisi yang dihadapi akan membantu merubah perilaku, bukankah lebih baik untuk bisa memperbaiki diri lebih awal?
Saat kita mulai terbiasa menyadari diri sendiri, kita akan lebih mudah tahu batasan dan kemampuan diri kita. Kita harus belajar dan bersiap menjadi dewasa sebelum diri kita didewasakan oleh keadaan.
Bagaimana, menurutmu apalagi karakter Gen Z yang nyata tapi masih sulit untuk diakui dan jarang dibahas? Yuk tulis di komentar!

Tinggalkan Balasan