Psikologi Melanggar Aturan: Seberapa Jauh Orang Melanggar?

Pernah mendengar ungkapan “aturan ada untuk dilanggar”? Pernahkah kamu memikirkan apa yang membuat ungkapan ini menjadi populer dan bahkan menjadi alasan untuk sebagian besar orang?

Jika aturan didirikan untuk menjaga keadilan dan kesejahteraan, lantas mengapa banyak orang yang repot-repot melanggar dan merusak keadilan?

Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, kamu bisa dengan mudah menengok ke arah lalu lintas, hampir tidak pernah berhenti ditemui para pelanggar yang berlalu lalang di jalan. Belum lagi urusan jam masuk dan jam temu, masih banyak orang Indonesia yang dengan santai melewatkannya begitu saha.

Hal inilah yang membawa pada pembahasan menarik tentang alasan dan penyebab mengapa seseorang melanggar aturan dan seberapa jauh pelanggaran yang dilakukan.

Faktor Seseorang Berani Melanggar Aturan

Setiap perilaku, termasuk melanggar memiliki beberapa faktor dan penyebab yang mendorong seseorang untuk melakukannya. Sebelum lebih lanjut mengenali apa saja faktor tersebut, kecenderungan untuk melanggar sebenarnya dapat terlihat saat masa remaja.

Masa Remaja

Psychologs (2023) dalam salah satu artikelnya menyebutkan bahwa masa remaja bisa menjadi salah satu contoh teori mengapa seseorang mulai berani melanggar aturan.

Remaja biasanya identik dengan masa dimana mereka rentan melakukan tindakan yang tidak lazim dan cukup sering melanggar aturan. Salah satu alasan dan penyebabnya adalah karena mereka mendambakan kebebasan dan keinginan untuk berdiri sendiri.

Mereka ingin memiliki kehendak untuk menentukan pilihan sendiri tanpa campur tangan orang tua atau pihak lain yang memberikan banyak batasan terhadap mereka. Batasan inilah yang menggoda mereka untuk melanggar aturan yang seharusnya mereka ikuti.

Kebanyakan mereka juga merasa bahwa aturan tersebut terlalu mengekang dan tidak mengerti mengapa aturan diterapkan atau apa yang sebenarnya orang tua inginkan.

Norma yang Berlaku

Pandangan lain tentang mengapa seseorang bisa melanggar atau bahkan bangga telah melanggar juga dikemukakan Psikolog Ikhsan Bella dalam Klik Dokter (2021) yang menyebutkan bahwa pelanggaran aturan perlu dilihat dulu apakah orang tersebut sudah memahami aturan dan norma yang berlaku di sekitarnya.

Bisa jadi orang yang melanggar berpikir bahwa tindakan yang dilakukan bukanlah sesuatu yang salah atau bisa berguna untuk orang lain. Tidak jarang pelanggaran ini justru menjadi sebuah kebanggaan yang layak diceritakan.

Sayangnya hal ini justru dapat menimbulkan dampak negatif untuk orang lain karena mereka bisa terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dan membuat mereka merasa bahwa tidak ada yang salah dari melanggar aturan.

Faktor Sosial

Kemensos (2024) dalam salah satu artikelnya juga menjabarkan beberapa faktor mengapa seseorang cenderung melanggar aturan, di antaranya berkaitan dengan:

  1. Adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan pribadi yang mendesak (Tyler, 2006). Banyak orang menganggap pelanggaran sebagai jalan pintas yang lebih mudah dibandingkan dengan cara yang benar untuk mencapai tujuan.
  2. Faktor lingkungan, lingkungan yang permisif atau acuh tak acuh terhadap pelanggaran aturan dapat menciptakan budaya di mana tindakan pelanggaran dianggap normal dan wajar.
  3. Persepsi tentang keadilan dan ketidakadilan (Adams, 1995). Banyak orang merasa bahwa aturan yang ada dinilai tidak adil atau tidak relevan dengan kondisi mereka sehingga merasa berhak untuk melanggar aturan tersebut.
  4. Persepsi tentang otoritas (Kelman dan Hamilton, 1989). Jika individu merasa bahwa otoritas yang menetapkan aturan tersebut tidak kredibel atau bahkan tidak mengikuti aturan, mereka akan lebih cenderung untuk melanggar aturan.
  5. Kemajuan Teknologi (Lessig,2006). Lemajuan teknologi dan aksesibilitas informasi yang tinggi dapat membuat individu dengan mudah menemukan cara untuk melanggar batasan yang ada.

Beberapa peneliti juga menyimpulkan bahwa karakter bukanlah pendorong utama mengapa seseorang melanggar, melainkan bagiaman kekuatan sosial dan situasional yang memengaruhi seseorang untuk berperilaku buruk.

Kepribadian

Meskipun tidak sekuat pengaruh lingkunga, beberapa ciri kepribadian juga dapat memengaruhi bagaimana reaksi seseorang terhadap rangsangan dan situasi. Ciri-ciri kepribadian tertentu biasanya lebih rentan terhadap perilaku melanggar aturan.

Misalnya, individu dengan tingkat impulsivitas tinggi, tingkat kesadaran rendah dan kecenderungan mencari sensasi dapat mendorong individu untuk mencari peluang melanggar aturan.

Lingkungan Anak

Sama seperti bagaimana teori pelanggaran dapat terlihat di masa remaja, lingkungan tempat seorang anak dibesarkan juga memainkan peran penting dalam membentuk sikap mereka terhadap aturan.

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan aturan yang tidak konsisten atau di mana pemberontakan dianggap normal dapat menginternalisasi pola perilaku melanggar.

Selain itu, anak-anak yang pernah mengalami pengalaman buruk dapat menjadikan pelanggaran aturan sebagai mekanisme koping untuk mendapatkan kembali kendali atas hidup mereka.

Pengaruh Teman Sebaya

Selama masa remaja, teman sebaya menjadi semakin berpengaruh dalam membentuk perilaku dan sikap. Remaja sering kali mencari validasi dan penerimaan dari teman sebayanya, yang mendorong mereka untuk meniru perilaku kelompok sosialnya.

Jika kelompok sebaya terlibat dalam perilaku melanggar aturan, individu mungkin merasa tertekan untuk menyesuaikan diri demi mempertahankan status sosial.

Dari beberapa faktor di atas, banyak contoh pelanggaran yang akhirnya terjawab mengapa hal tersebut terjadi. Contoh mudahnya dapat di ambil dari faktor kemajuan teknologi. Dengan adanya media sosial yang selalu diperbarui setiap detiknya dapat memudahkan siapapun mengakses informasi yang diinginkan.

Bahkan kini banyak content creator yang terang-terangan memberikan informasi lewat konten tips&trick pelanggaran hanya agar banyak orang mengikutinya, tanpa tahu bahwa hal tersebut justru melanggar dan merugikan banyak pihak.

Seberapa Jauh Seseorang Berani Melanggar Aturan?

Setelah mengetahui faktor penyebab pelanggaran, pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah seberapa jauh seseorang berani melanggar aturan?

Jawabanya terletak dari alasan mengapa mereka melakukan pelanggaran. Secara umum, melanggar memberikan dua hal: perasaan senang dan bebas karena dapat terlepas dari aturan dan mendapatkan jalan yang lebih cepat untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Jadi, sejauh hal itu dapat terasa menguntungkan bagi diri seseorang, seseorang dapat terus melakukan pelanggaran tanpa batas. Kehausan dan ketidakpuasan yang menjadi sifat manusia membuatnya dapat tidak mempedulikan akibat dari perbuatan yang dia lakukan.

Terlebih jika pelanggaran dilakukan oleh para golongan elit yang akan menganggap bahwa melanggar aturan terasa semakin membuat mereka berkuasa di antara orang banyak.

Kembali lagi pada konsep bahwa aturan dibuat untuk menjaga ketertiban dan menciptakan keadilan di tengah masyarakat. Namun pada hakikatnya, aturan di satu tempat berbeda dengan di tempat lain. Aturan di Indonesia tidaklah sama dengan aturan di Australia. Bahkan aturan di satu sekolah juga berbeda dengan sekolah lain.

Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena ada budaya, karakter dan nilai yang berbeda di setiap tempatnya. Bisa jadi pelanggaran di sekolah A tidak dianggap sebagai pelanggaran di sekolah B. Hal inilah yang membawa pada kesimpulan bahwa tidak semua aturan sama.

Dalam persoalan lalu lintas sendiri, banyak masyarakat yang merasa bahwa banyak mobil pejabat yang tidak berkepentingan justru menyelak kemacetan atau bahkan masuk ke dalam jalur busway.

Hal ini mencerminkan faktor bahawa otoritas yang tidak mengikuti aturan hanya akan membuat bawahan mereka terjun melanggar aturan tersebut. Banyak orang yang kemudian berpendapat bahwa untuk apa mengikuti aturan jika pejabat saja melanggarnya.

Meskipun terdengar masuk akal, hal ini justru menunjukkan bahwa beberapa aturan terkadang dibuat untuk mengendalikan golongan tertentu. Namun melanggar aturan hanya demi aturan tidak dijalankan dan terus-menerus menantangnya bukanlah sebuah keberanian atau keadilan. Hanya karena kita dapat melanggar sesuatu, bukan berarti kita harus melakukannya.

Terkadang mengikuti aturan yang ditetapkan memang terasa membosankan. Itulah mengapa banyak orang melanggarnya untuk membebaskan diri mereka. Jika melihat dari kacamata yang lebih besar, melanggar aturan sebenarnya tidaklah sepenuhnya salah. Bahkan dalam beberapa kemungkinan kecil melanggar aturan justru dapat memberikan dampak positif.

Misalnya, seorang seniman biasanya membutuhkan suasana yang lebih terbuka untuk mendapatkan ide, namun perusahaan mengekangnya untuk tetap berada di kantor. Hal ini justru membuat mereka stuck sehingga sulit mengeluarkan ide yang out of the box.

Bagaimana Menyikapi Pelanggaran?

Tidak jarang banyak orang yang juga merasa melanggar aturan hanya karena merasa tertekan karena orang lain juga melakukannya. Tekanan untuk menyesuaikan diri ini sebenarnya adalah tekanan yang kita buat sendiri.

Meskipun kita mencoba untuk tidak setuju dengan hal yang dilakukan, kita berusaha menginternalisasi penilaian dan preferensi orang lain sehigga terbawa arus untuk melakukannya.

Setiap orang memiliki nilai-nilainya sendiri. Sebelum memutuskan untuk melanggar aturan, pikirkan apakah keputusan tersebut akan bertentangan dengan nilai-nilai pribadi atau tidak. Coba pikikan apakah hasilnya sepadan dengan konsekuensi yang akan didapatkan dari melanggar aturan tersebut?

Melanggar aturan pasti memiliki konsekuensi. Terkadang, akibat dari pelanggaran mungkin terasa menguntungkan diri sendiri namun justru merugikan orang kebanyakan.

Sekian pembahasan mengenai psikologi melanggar aturan. Pada dasarnya, faktor eksternal memang memberikan banyak tekanan untuk seseorang melanggar aturan. Hal ini karena aturan berkaitan dengan situasi dan kondisi orang secara menyeluruh. Meski demikian, faktor internal juga berperan dalam menentukan apakah sebaiknya melanggar aturan atau tidak.

Pola pikir berperan penting apakah pelanggaran yang dilakukan akan memberikan timbal balik yang bermanfaat sehingga bisa terbayarkan atau justru menimbulkan kerugian dan masalah yang lebih kompleks.

Nyatanya, jika kita menginginkan lingkungan yang sepenuhnya teratur dan disiplin, semua itu kembali lagi dari bagaimana cara kita menyikapi aturan yang ada. Sebab, perilaku dan sikap kitalah yang dilihat orang lain dan mempengaruhi bagaimana akhirnya mereka berperilaku.

Reference:


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca