Mengenal Jenis-Jenis Eating Disorder dan Gejalanya

Masalah mental yang terbentuk dari berbagai jenis faktor juga dapat timbul dari berbagai masalah perilaku. Hal ini biasanya tercermin dari berbagai aspek perilaku sehari-hari, seperti perubahan pola pikir, tidur bahkan hingga makan.

Bagi beberapa budaya dan lingkungan yang mengidamkan bentuk badan yang kurus pada wanita seringkali banyak ditemukan para penderita gangguan makan dalam berbagai jenis. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud gangguan makan atau eating disorder, simak selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Pengertian Eating Disorder

Eating disorder atau gangguan makan adalah masalah kesehatan mental yang mencakup mencakup cara pikir tentang makanan, pola makan, berat badan dan bentuk tubuh, serta perilaku makan seseorang.

Penderita gangguan makan biasanya menanggap makanan sebagai sesuatu yang membahayakan. Mereka juga menganggap makan adalah satu-satunya hal yang dapat dikendalikan dalam hidup, merasa harus memenuhi berat badan tertentu atau makanan tertentu serta menanggap orang lain memandangnya negatif.

Gangguan ini tidak hanya memperngaruhi kemampuan emosi dan mental tapi juga dapat membahayakan tubuh karena tidak terpenuhinya gizi yang cukup dan menganggu sistem pencernaan.

Mayo Clinic dalam artikelnya bahkan menyebutkan bahwa gejala gangguan makan bisa termasuk gejala kelaparan. Kondisi lapar akan memengaruhi otak dan dapat menyebabkan perubahan suasana hati, pikiran, kecemasan, dan penurunan nafsu makan. Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan pola makan yang sangat terbatas atau perilaku makan bermasalah yang terus berlanjut sehingga sulit untuk kembali ke kebiasaan makan sehat.

Gangguan makan biasanya banyak dijumpai pada remaja dan orang dewasa muda dan paling sering dialami wanita berusia antara 12 dan 35 tahun. Studi di Amerika sendiri menyebutkan bahwa gangguan ini umum terjadi dimana 28,8 juta orang di Amerika Serikat akan mengalami gangguan makan seumur hidup mereka.

Gangguan makan juga biasanya terjadi bersamaan dengan gangguan mental lainnya seperti gangguan mood dan kecemasan, depresi hingga OCD.

Gejala Umum Eating Disoder

Gejala atau ciri adanya gangguan makan pada seseorang tidak hanya terlihat dari bagaimana cara ia makan, tapi juga dapat terlihat dari beberapa tanda fisik dan perilaku berikut, yaitu:

  1. Mengkhawatirkan berat badan dan bentuk tubuh
  2. Menghindari bersosialisasi ketika jika ada makanan
  3. Makan yang sangat sedikit
  4. Minum obat pencahar setelah makan
  5. Berolahraga terlalu banyak
  6. Terdapat kebiasaan atau rutinitas yang sangat ketat seputar makanan
  7. Perubahan suasana hati, seperti pendiam, cemas, atau depresi
  8. Merasa kedinginan, lelah atau pusing
  9. Merasa nyeri, kesemutan atau mati rasa di lengan dan kaki
  10. Merasakan jantung berdebar kencang, pingsan atau lemas
  11. Terdapat masalah pencernaan, seperti kembung, sembelit atau diare
  12. Berat badan terlalu besar atau terlalu kecil untuk seusianya
  13. Tidak menstruasi atau tanda-tanda pubertas tertunda
  14. Sering mencari alasan untuk tidak makan
  15. Terlalu fokus pada makanan atau makan sehat
  16. Memasak makanan sendiri daripada makan apa yang dimakan keluarga.
  17. Menarik diri dari aktivitas sosial yang biasa.
  18. Sering bercermin untuk mencari apa yang dianggap buruk
  19. Makan makanan dalam jumlah banyak secara berulang
  20. Konsumsi suplemen makanan, obat pencahar atau produk herbal untuk menurunkan berat badan.
  21. Kapalan pada buku-buku jari akibat memasukkan jari ke dalam mulut hingga menyebabkan muntah.
  22. Hilangnya email gigi yang menjadi tanda muntah berulang.
  23. Segera ke toilet untuk muntah saat atau setelah makan.
  24. Merasa depresi, jijik, malu atau bersalah tentang kebiasaan makan.
  25. Penurunan atau kenaikan berat badan yang drastis
  26. Berbohong tentang berapa banyak yang dimakan, kapan makan, atau berapa berat badan
  27. Makan banyak dengan sangat cepat
  28. Menghindari makan bersama orang lain
  29. Memotong makanan menjadi potongan kecil atau makan dengan sangat lambat
  30. Mengenakan pakaian longgar atau kebesaran untuk menyembunyikan penurunan berat badan

Baca Juga: Sleep Disorder: Arti, Jenis, Gejala, Penyebab dan Penanganannya

Jenis-Jenis Eating Disorder

Dalam panduan gangguan mental di DSM V dan PPDGJ III, berikut 6 jenis gangguan makan, yaitu:

  1. Pica: Gangguan makan yang ditandai dengan mengonsumsi zat bukan makanan secara terus menerus setidaknya selama 1 bulan. Zat ini bisa berupa kertas, serpihan cat, sabun, kain, rambut, tali, kapur, logam, kerikil, arang atau batu bara, atau tanah liat. Penderita pica umumnya tidak memiliki keengganan terhadap makanan.
  2. Rumination: Gangguan makan yang ditandai  dengan pengunyahan makanan secara berulang yang menyebabkan makanan yang tertelan kembali ke dalam mulut untuk dikunyah, ditelan ulang atau dimuntahkan dan terjadi selama setidaknya 1 bulan.
  3. Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder: Gangguan makan yang ditandai dengan kurangnya minat untuk makan dan penghindaran makanan ekstrem (perilaku makan yang sangat pilih-pilih) serta kekhawatiran akan konsekuensi buruk dari makan seperti takut tersedak, mual, muntah, sembelit, alergi, dll. Gangguan ini dapat berkembang sebagai respons terhadap peristiwa negatif.
  4. Anorexia Nervosa: Gangguan makan yang ditandai dengan pengurangan berat badan dengan sengaja (BMI < 18.5) karena rasa takut yang kuat akan kenaikan berat badan atau menjadi gemuk. Terdapat dua jenis anorexia nervosa yaitu: Restricting type, di mana individu menurunkan berat badan dengan diet, puasa atau olahraga berlebihan dan Binge-eating/Purging Type, di mana individu makan berlebihan dan/atau muntah yang terputus-putus. Anoreksia memiliki angka kematian tertinggi dibandingkan diagnosis psikiatris lainnya.
  5. Bulimia Nervosa: Gangguan makan yang ditandai dengan kecenderungan untuk terus makan dan ketagihan makan yang tidak bisa dilawan. Penderita biasanya makan berlebihan (binge eating) dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Gejala ini terjadi setidaknya seminggu sekali dan biasanya diikuti dengan muntah atau minum obat pencahar untuk mencegah kenaikan berat badan. Penderita bulimia nervosa bisa sedikit kurus, memiliki berat badan normal, kelebihan berat badan, atau bahkan obesitas. Namun, jika berat badan mereka sangat kurus, mereka dianggap menderita anoreksia nervosa Penderita bulimia nervosa bisa sedikit kurus, berat badan normal, kelebihan berat badan, atau bahkan obesitas. Namun, jika berat badan mereka sangat kurus, mereka dianggap menderita anoreksia nervosa tipe Binge-eating/Purging Type.
  6. Binge Eating Disorder: Gangguan makan berlebihan yang ditandai dengan makan berlebihan dalam waktu singkat, merasa kehilangan kendali dan tertekan oleh perilaku tersebut. Tidak seperti penderita bulimia nervosa yang berusaha menghilangkan makanan dengan muntah, minum obat atau berolahraga, penderita gangguan ini tidak berusaha menghilangkannya. Terjadi setidaknya sekali seminggu hingga 3 bulan dan ditandai juga dengan makan jauh lebih cepat, makan sampai merasa sangat kenyang, makan dalam jumlah banyak walupun tidak lapar, makan sendirian karean malu makan banyak dan merasa jijik dengan diri sendiri atau merasa bersalah setelahnya.

Faktor Penyebab Eating Disorder

Eating disorder dapat terjadi karena berbagai faktor penyebab. Berikut ini beberapa faktor yang berisiko menyebabkan terjadinya gangguan makan pada seseorang, yaitu:

  1. Genetik: Studi menemukan bahwa beberapa jenis gangguan mental dapat diwariskan atau diturunkan dalam keluarga sehingga seseorang anak atau keturunan dari penderita gangguan makan mungkin memiliki kemungkinan yang lebih tinggi terkena gangguan makan.
  2. Biologis: Faktor biologis, seperti perubahan zat kimia pada otak menunjukkan bahwa keaktifan zat tersebut bisa terjadi selama perilaku gangguan makan.
  3. Riwayat keluarga: Gangguan makan lebih mungkin terjadi pada orang yang orang tua atau saudara kandungnya pernah mengalami gangguan makan.
  4. Masalah kesehatan mental: Beberapa gangguan makan biasanya terjadi bersamaan dengan kondisi kesehatan mental lainnya seperti trauma, kecemasan, depresi, gangguan obsesif-kompulsif.
  5. Riwayat perundungan: Orang yang pernah diejek atau dirundung karena berat badannya lebih mungkin mengalami masalah makan dan gangguan makan.
  6. Diet dan kelaparan: Sering berdiet bisa menjadi salah satu faktor risiko gangguan makan, terutama jika berat badan terus naik turun.
  7. Stres: Stres atau tekanan emosional karena berbagai hal dapat meningkatkan risiko terkena gangguan makan.
  8. Nilai budaya dan sosial: Tekanan untuk menyesuaikan diri untuk memenuhi nilai sosial yang seringkali tidak realistis dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang sehingga dan mengubah pola perilaku termasuk pola makan.
  9. Riwayat kesehatan fisik: Beberapa masalah fisik seperti penderita diabetes memiliki kecenderungan mengalami gangguan makan.
  10. Kondisi internal dan peristiwa traumatis: Beberapa kondisi tertentu seperti dikritik karena kebiasaan makan, bentuk tubuh, atau berat badan, memiliki kecemasan, harga diri yang rendah, mengalami pelecehan seksusal dan kepribadian perfeksionis dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan makan.

Penanganan Eating Disorder

Lantas bagaimana penanganan yang tepat untuk seseorang yang menderita gangguan makan? Berikut ini terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

  1. Psikoterapi: Psikoterapi dapat membantu untuk mengubah kebiasaan tidak sehat menjadi kebiasaan yang sehat. Psikoterapi untuk gangguan ini dapat berupa terapi kognitif perilaku dan terapi keluarga.
  2. Pengobatan: Beberapa kondisi gangguan mental yang kompleks diperlukan mengonsumsi beberapa jenis obat antidepresan, antipsikotik dan antikecemasan agar dapat membantu mengatasi gejala depresi atau gangguan kecemasan yang sering kali terkait dengan gangguan makan.
  3. Konseling nutrisi: Konsultasi dengan ahli gizi dapat membantu memperbaiki kebiasaan makan dan mengembangkan rencana makan yang lebih sehat.
  4. Rawat inap: Jika kondisi kesehatan fisik atau mental semakin serius, seperti anoreksia atau bulimia yang menyebabkan malnutrisi, Psikiatri biasanya akan merekomendasikan pengobatan rawat inap.
  5. Belajar hidup sehat: Biasakan untuk beralih ke pola makan yang lebih sehat dengan konsumsi biji-bijian, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Batasi juga konsumsi garam, gula, alkohol, lemak jenuh dan lemak trans.
  6. Hindari diet ekstrem: Jika  perlu menurunkan berat badan, konsultasikan dengan ahli gizi dan berhenti konsumsi suplemen makanan, obat pencahar atau produk herbal instan untuk menurunkan berat badan.
  7. Lakukan aktivitas fisik: Setiap minggu, lakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik seperti jalan cepat. Kamu juga bisa memilih aktivitas fisik atau olahraga lain yang disukai agar lebih mudah dan nyaman melakukannya.
  8. Perkuat citra tubuh yang sehat: Tanamkan pada diri sendiri dan sekitar bahwa bentuk tubuh dapat bervariasi. Hindari mengkritik tubuh sendiri atau siapapun dan belajar untuk menerima dan menamakan rasa hormat agar membangun harga diri yang sehat.
  9. Terapi perilaku kognitif: Terapi ini dapat membantu pasien memahami apa faktor pemicu munculnya gejala gangguan makan dan melatih pasien untuk mengalihkan pola makan yang tidak sehat dengan hal yang lebih. Terapi ini juga bermanfaat untuk membantu pasien mengendalikan emosi, mood, dan gangguan perilaku yang muncul.
  10. Mengontrol berat badan: Binge eating disorder sering membuat penderitanya kesulitan menjaga berat badan ideal. Membantu pasien BED untuk memperoleh berat badan ideal setidaknya setengah kilogram per minggu dapat menjadi cara penanganan yang dapat dilakukan.

Sekian pembahasan mengenai gangguan makan, gejala, jenis, penyebab hingga penanganannya. Makan adalah salah satu perilaku yang harus dilakukan manusia untuk memenuhi gizi dan nutrisi dalam tubuh sehinga dapat beraktivitas dengan lancar.

Sayangnya masih banyak orang yang belum menyadari dan bahkan mengabaikan diri dan orang lain jika ditemukan adanya pola makan yang tidak sehat. Setelah membaca artikel ini, semoga kamu bisa lebih bijak dan segera menangani kecenderungan gangguan makan tersebut langsung kepada ahlinya.

Referensi:


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca