man sitting on floor inside room

Makna Bersyukur dan Kesederhanaan yang Jadi Kemewahan – An Essay

Di penghujung akhir tahun, satu lagi pesan dan pelajaran yang datang untuk diri sendiri, rasa syukur. Musibah yang terjadi belakangan ini di sekitar kita menjadi pengingat berat akan pentingnya rasa syukur yang harus ada di setiap orang.

Dulu, aku pikir, mengucap kalimat syukur adalah bentuk syukur yang cukup. Tapi mengapa setelah itu masih ada perasaan tidak cukup yang tertinggal? Jawabannya karena memang diri ini yang belum bersyukur sepenuhnya.

Salah satu Ulama pernah berkata bahwa rasa syukur tidak hanya ditandai dengan mengucap kalimat syukur tapi juga diiringi dengan hati lapang dan tanggungjawab untuk menjalani hal tersebut sepenuhnya sembari mengupayakan apa yang sebenarnya bisa kita lakukan dari kondisi kita saat ini.

Jadi, kalau indikator tersebut tidak dijalani, bagaimana pun juga kamu belum bersyukur sepenuhnya.

Cara terampuh untuk membuat diri kita bersyukur memang seringkali dengan melihat keadaan orang yang berada di bawah kita, dalam aspek apapun itu. Meskipun terdengar miris, upaya ini adalah cara yang paling utama untuk menanamkan rasa syukur dalam hati.

Tapi sebagaimana karakter manusia yang tidak mau disalahkan, pasti kita tetap saja membandingkan diri dengan mereka yang lebih maju atau di atas kita. Alih-alih membandingkan diri kita dengan yang di bawah.

Sampai akhirnya aku sadari, seburuk apapun kita menilai kondisi kita, kenyataan bahwa kita masih bisa hidup di dunia ini adalah hal termahal yang kita miliki. Selama kita hidup, selama itu pula kita masih beruntung.

Aku jadi ingat salah satu Ayat Suci yang menceritakan bagaimana orang-orang yang sudah mendahului kita ingin kembali hidup hanya untuk beribadah. Jadi, bukankah kita saat ini masih lebih beruntung? Bukankah saat ini itu hal terbesar yang patut kita syukuri?

Aku juga pernah baca suatu tulisan yang berkata selama kita masih punya atap untuk berteduh, tempat untuk tidur dan makanan untuk disantap esok hari, selama itu pula kita sudah lebih kaya diantara orang kebanyakan.

Melihat bagaimana saudara kita yang rumahnya hancur lebur karena musibah, saudara kita yang hidup berpindah-pindah karena ancaman dan ketidakpastian. Ternyata, sudah sejauh itu kita tidak jauh dari rasa syukur.

Rasa syukur memang sesuatu yang besar. Namun, sebagaimana semua kebaikan, semuanya harus dimulai dan jika perlu dipaksakan agar kita terbiasa.

Website Positive Psychology menyebutkan konsep ini sebagai The Iceberg of Gratitude yang berarti rasa syukur itu seperti bongkahan gunung es yang sangat besar.

Kita cenderung merasa beryukur setelah mendapatkan hal yang besar yang tentunya hanya terjadi sedikit dalam hidup, namun melupakan banyak hal kecil yang ternyata memiliki jumlah yang lebih besar dalam hidup kita.

Sumber: Positive Psychology

Jika rasanya terlalu sulit, penjamkan mata dan rasakan apa saja yang saat ini kita miliki dan dapatkan. Bersyukur bisa dimulai dengan kita menyadari hal-hal baik yang telah terjadi dan kita rasakan.

Tidak perlu hal-hal yang besar, barang yang kita harapkan atau cita-cita yang kita impikan, coba mulai syukuri hal-hal kecil yang tanpa sadari memberikan kemudahan dan rasa bahagia setiap harinya.

Rasakan bagaimana suapan yang kita tadi makan, bagaimana lembutnya pakaian yang kita gunakan dan bagaiman satu demi satu urusan kita berlalu dan dimudahkan Tuhan.

Terus amati, rasakan hingga akhirnya kita menyadari bahwa semuanya berjalan atas kehendak-Nya. Semuanya sudah cukup terpenuhi tanpa perlu jumlah yang banyak. Tanpa perlu jumlah yang melimpah.

Semakin besar rasa syukur kita, makin besar pula kecenderungan kita untuk tampil dalam kesederhanaan. Sederhana berarti menampilkan diri apa adanya tanpa perlu menutupi diri atau meninggikan diri.

Uniknya, kini banyak tren di media sosial yang tanpa disadari justru membawa kita untuk tampil lebih sederhana di tengah kepalsuan dan kemewahan yang selalu ingin ditunjukkan.

Tren kembali ke alam, kembali ke real food, kembali berolahraga, bukankah itu semua hal sederhana yang dulu ditinggalkan?

Belum lagi segala sesuatu yang kini dilabelkan minimalis dan simple justru memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan hal yang terlihat penuh gemerlap. Ternyata, sederhana itu kini jadi sebuah kemewahan yang tidak disadari.

Pertanyaan selanjutnya yang kemudian datang adalah mengapa rasa syukur sangat penting dan harus ada?

Mengutip dari Positive Psychology, memiliki rasa syukur menunjukkan bahwa seseorang telah sejahtera dalam hidupnya, baik secara sosial, emosional maupun psikis. Rasa syukur juga berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang tinggi serta tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah.

Jadi, masih merasa bahwa rasa syukur itu omong kosong belaka? Masih merasa bahwa keadaan ini tidak ada yang bisa disyukuri? Semoga tidak. Di tahun yang baru, semoga kita semua tumbuh menjadi pribadi dengan rasa syukur yang tinggi dan semakin tumbuh tinggi setiap harinya.

Selamat Tahun Baru 2026!


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca