Only Hope

Review Buku: Only Hope

What’s behind the book?

  • Judul             : Only Hope
  • Penulis          : Silvia Iskandar
  • Penerbit        : Gagas Media
  • Halaman       : 268
  • Genre            : Young Adult Fiction
  • Harga            : Rp. 45.000
  • Tahun Terbit : 2014
  • Blurb              :

Kazu dan Hana mengikuti Masaru dari belakang. Mereka berlari sampai ke tengah-tengah lapangan olahraga untuk bergabung dengan anak-anak klub baseball. Di luar dugaan, anak-anak klub dan penduduk yang entah dari mana datangnya, berbondong-bondong berlari melewati mereka menuju gedung sekolah sambil berteriak-teriak, “TSUNAMI! TSUNAMI!”

Awalnya, hari itu Hana jalani seperti biasa. Ia tak menyangka, pada hari itu pula, gempa besar dan tsunami menyerang kotanya, Minami Souma. Gadis keturunan Indonesia-Jepang itu tak hanya kehilangan rumah, dia juga kehilangan ibunya.

Bersama dengan ribuan pengungsi lainnya, Hana tinggal di dalam sebuah sekolah. Mencoba melanjutkan hidup, mencoba bertahan dengan harapan yang perlahan-lahan terkikis.

Silvia Iskandar menulis novel ini berdasarkan musibah yang terjadi di Provinsi Fukushima, yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa dan tsunami pada tanggal 11 Maret 2011 lalu.

Why i read this book?

Buku ini aku temukan saat mengunjungi Big Bad Wolf 2018. Aku seringkali tertarik karena judul buku, ketika aku melihat judul “Only Hope” ini aku segera mengambilnya dan membaca blurbnya.

Berhubung aku tidak pernah membaca novel dengan latar belakang bencana, buku ini menggambarkan bagaimana perasaan para korban bencana hanya dengan judulnya.

Bahkan di cover juga disebutkan, “Jangan takut akan apa yang kau lihat, hari esok pasti akan datang untukmu” Kalimat ini cukup menyentuhku saat itu, karena itu kuputuskan untuk membelinya.

My impression and rating:

Buku ini berlatarbelakang tentang kehidupan di Fukushima setelah mengalami bencana gempa dan tsunami pada tanggal 11 Maret 2011 lalu. Banyak orang yang harus kehilangan harta benda dan orang-orang terkasih sembari berusaha menyelamatkan diri dan bertahan di tempat pengungsian.

Buku ini menceritakan dengan baik bagaimana kehidupan, perasaan serta suasana yang terjadi saat itu. Bagaimana orang-orang putus asa namun harus tetap melanjutkan kehidupannya. Bagaimana manusia menjadi liar karena kehilangan segalanya.

Termasuk Hana, seorang remaja yang kehilangan ibunya saat bencana itu terjadi. Ia berusaha keras untuk bertahan hidup dan mencari ibunya yang tidak ada kabar bersama kedua temannya, Kazu dan Masaru. Mereka bertiga hidup saling menguatkan satu sama lain meskipun tinggal di sebuah pengungsian dengan ribuan orang lainnya.

Buku ini memberikanku gambaran bagaimana kondisi korban bencana alam. Mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur karena keadaanku mungkin lebih baik dibandingkan orang lain di luar sana. 

Alangkah lebih baiknya kita juga perlu memberikan perhatian dan kepedulian antar sesama terutama kepada mereka yang berada di bawah kita atau sedang terkena bencana. Seperti salah satu kutipan dari buku ini, “kepedulian orang dekat merupakan bahan bakar untuk menantang hari esok”. 

Selain itu, aku juga mendapatkan pelajaran bahwa ketika manusia kehilangan semua materi yang ada di hidupnya, mereka akan melakukan cara apapun untuk dapat mempertahankan hidupnya sekalipun harus bersikap seperti binatang. 

Buku ini sesekali memasukkan bahasa jepang yang menambahkan kesan alamiah sehingga menghidupkan alur cerita. Meskipun demikian bahasa yang digunakan mudah dipahami dan diresapi. Untuk rating buku ini aku beri 4,7/5.

Favorite Quote:

Setelah semua fasilitas hidup terengut, setelah tembok moral dan etika runtuh, manusia menunjukkan wujud aslinya : binatang yang dikuasi insting.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca