REVIEW BUKU I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOKPOKKI

Review Buku: I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki

What’s behind the book?

  • Judul            : I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki
  • Penulis         : Baek Se Hee
  • Penerbit       : Haru
  • Halaman.     : 232
  • Genre           : Self Improvement
  • Tahun Terbit: 2019
  • Harga           : Rp. 99.000
  • Blurb            :

Aku: Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standart dan biasa saja ?

Psikiater: Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki?

Aku: Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri.

I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki adalah esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran nasihat, dan evaluasi diri yang bertujuan agar pembaca bias menerima dan mencintai dirinya.

Buku self improvement ini mendapatkan sambutan baik karena pembaca meraskan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku ini mendapatkan predikat bestseller di Korea Selatan.

Why i read this book?

Korea Selatan. Siapa yang tidak mengenal negara ini? Budayanya sudah sangat dikenal banyak orang. Mulai dari musik, makanan, drama hingga wisata. Aku salah satu dari mereka yang ikut menyukai budaya negeri tersebut. Saat itu, promosi buku ini sering kali lewat di laman Instagramku.

Sebelumnya aku juga menyukai literasi Korea Selatan dari beberapa novel terjemahan yang pernah aku baca. Aku dengar buku ini menjadi #1 Best Seller di Korea Selatan. Aku pun berpikir sepertinya buku ini akan menarik untuk dibaca, jadilah aku membelinya.

My impression and rating:

Awalnya aku kira buku ini seperti cerita pada novel fiksi. Tapi ternyata buku ini merupakan buku pengembangan diri yang berupa esai dari kisah sang penulis. Tapi tidak apa, aku juga sesekali pernah membaca buku pengembangan diri.

Dibuka dengan pengantar dari salah satu dokter kejiwaan dari Indonesia yang membahas tentang distimia (depresi yang berjangka panjang). Beliau menjelaskan beberapa hal dasar yang dengan bahasa yang mudah dimengerti. Kemudian disusul dengan pengantar dari penulis.

Buku ini secara umum berisi tentang percakapan antara penulis dengan psikiater. Pembicaraan yang intens ini seolah membawa kita ikut ke dalam sesi konseling tersebut.

Buku ini memberikan gambaran bahwa terkadang kesulitan yang kita alami tidak lain hanya karena kita terlalu menetapkan standar pada setiap hal. Terlalu berekspektasi, menilai dan menempatkan diri atau orang lain yang sebetulnya tidak perlu.

Banyak hal yang kita khawatirkan justru membuat kita merasa tersiksa sendiri. Pemikiran ekstrem untuk menempatkan sesuatu pada hitam atau putih hanya akan menambah parah keadaan tersebut.

Aku suka dengan kiasan makna dari judul buku ini bahwa bahwa hal-hal kecil (seperti tteokpokki) yang ada di sekitar kita dapat memberikan kita kekuatan untuk setidaknya tetap bertahan melewati hari ini dan menyambut hari esok.

Meskipun cenderung monoton karena didominasi oleh percakapan,  banyak hal yang menurutku menarik untuk dibaca karena ada beberapa hal yang cukup berkaitan denganku.

Bagi kalian yang sekiranya berada pada masa-masa sulit, sepertinya buku ini akan cocok menjadi teman yang akan mendampingi kalian. Untuk ratingnya aku beri 4.7/5. Buku ini memiliki sekuel, “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki 2“, stay tune for the review!

Favorite Quote:

Hanya ada satu ‘aku’ di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat spesial. Diriku adalah sesuatu yang harus aku jaga selamanya. 


Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Laman Lajur

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca