Bakat vs Minat

Bakat vs Minat

‘Aku bisa menari tapi aku tidak mau jadi penari’, ‘Aku ga ada bakat nyanyi, tapi aku mau jadi penyanyi‘. Percakapan seperti ini seringkali hadir di tengah-tengah kita, membahas bakat dan minat yang sudah tidak asing lagi bagi kita sejak kecil.

Sebenarnya apa sih yang membedakan keduanya? Apa benar orang yang tidak berbakat tidak memiliki kesempatan untuk berkembang di bidang yang diminati? Atau apakah benar orang yang punya minat di suatu bidang tidak akan berhasil karena tidak ada bakat yang mendukung? 

Pengertian Bakat

Bakat merupakan kemampuan bawaan seseorang. Bakat seolah ‘diturunkan’ bersamaan dengan lahirnya seseorang ke dunia. Bakat sendiri seperti bibit yang sudah ditebarkan namun tumbuh atau tidaknya bergantung pada lingkungan yang akan merawatnya.

Bibit ini tidak semata-mata tumbuh tinggi jika tidak ada yang menyiram dan memberikannya pupuk. Bakat perlu mendapatkan pelatihan dan pengembanagan untuk melahirkan kemampuan yang matang. 

Ada istilah ‘bakat terpendam’ yang berarti bahwa bakat yang dimiliki seseorang baru diketahui setelah diasah dan dikembangkan dengan lingkungannya. Sehingga perkembangan awal seorang anak sangat menentukan kematangan bakat yang ia miliki. Hal inilah yang menyebabkan bagi sebagian orang tua yang sudah mendaftarkan anaknya pada beragam jenis les sejak usia dini.

Meskipun bakat bersifat kompleks, beberapa penelitian menyebutkan bahwa bakat seseorang cenderung stabil saat memasuki masa remaja. Mengetahui bakat seseorang dapat digunakan untuk membantu memprediksi dan merencanakan pendidikan dan arah karirnya. 

Pengertian Minat

Minat sendiri berarti kecenderungan, keinginan, kesukaan, ketertarikan. Minat ditandai dengan adanya perhatian dan ketertarikan yang disertai rasa senang dan keingintahuan seseorang terhadap suatu bidang. Minat dapat tumbuh dari faktor internal, emosional hingga lingkungan.

Minat merupakan hasil dari apa yang telah dipelajari dan dikenali seseorang. Semakin sering seseorang mengeksplorasi diri dan mengalami banyak hal, maka semakin banyak kemungkinan minat yang dimiliki, sehingga minat tidak terbatas hanya pada satu bidang. Mengetahui minat seseorang dapat digunakan untuk membantu memperluas pilihan karir dan pendidikannya. 

Mengembangkan Minat dan Bakat

Lantas bagaimana sebaiknya memperlakukan minat dan bakat? Minat dan bakat sejatinya tidak terpisahkan. Saat psikotes sendiri, akan jauh lebih baik diadakan pengujian secara bersamaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan pertimbangan penanganan seperti apa yang sebaiknya dilakukan.

Dalam realitanya, mana yang lebih baik didahulukan? Jawabannya adalah kondisional, karena keduanya sama-sama penting. Bakat dapat menjadi begitu diperlukan jika seseorang tidak tahu apa yang menjadi minatnya, sehingga ia hanya perlu mengembangkan bakat yang ia miliki dan jika ia mampu memaksimalkan kemampuan bawaannya, ia akan memiliki kinerja atau performa yang baik di bidangnya.

Sedangkan jika seseorang merasa tidak memiliki sebuah bakat karena kurangnya pengembangan dan pelatihan sejak dini, maka ia bisa mencari tahu apa bidang yang ia gemari atau senangi sehingga akan membantunya dalam mengambil keputusan. 

Bagaimana dengan seseorang yang memiliki minat dan bakat yang berbeda? Saat seseorang memiliki minat dan bakat yang berbeda keduanya dapat disalurkan di wadah yang berbeda pula.

Misalnya, ia bisa memaksimalkan bakatnya dan meniti karir dalam bidang yang sesuai. Lalu ia masih dapat menyalurkan minatnya sebagai hobi dan terus mengembangkannya. Realitanya, saat dihadapi oleh dua hal yang berbeda, seseorang akan mampu mengarahkan dirinya untuk memilih mengutamakan apa yang menjadi prioritasnya.

Apakah ia akan melanjutkan menekuni bidang yang ia minati, atau melanjutkan mengembangkan bakat yang dimiliki atau bahkan menyalurkan keduanya dalam jalan yang sama atau yang berbeda. Semoga tulisan ini dapat membantu kamu yang sedang bimbang dalam mengambil keputusan tentang bakat atau minat yang harus didahulukan. 

Referensi: Bahan ajar perkuliahan (2020) 


Komentar

Tinggalkan Balasan